JITAPSARA GUGAT

62 views
Betara Kresna protes ketika Baladewa - Antarejo masuk dalam skenario Kitab Jitapsara.
- Advertisement -

PRABU Duryudana memang seperti penguasa Orde Baru dulu: kalau sudah duduk lupa berdiri. Mestinya 10 tahun paling banyak, nambaaah terus sampai 32 tahun. Bagaimana tidak? Duryudana menjadi raja Ngastina kan hanya caretaker alias pejabat sementara, tapi dikangkangi terus. Wasiat Pandu bahwa negeri Ngastina dikembalikan ke anak-anak Pendawa setelah mereka dewasa, justru kata “dewasa” itu direkayasa lewat DPR-nya Ngastina. Celakanya, karena isinya wakil rakyat Ngastina hanya orang-orang yang membebek, atas keputusan sarat rekayasa itu mereka hanya ketuk palu saja.

Dewasa menurut BKSBN (Badan Kerjasama Bioskop Ngastina) kan 17 tahun, sehingga ada peraturan film: untuk 17 tahun ke atas. Malah versi bismalam, 7 tahun pun sudah dianggap dewasa, sehingga harus bayar penuh. Tapi di Ngastina, lelaki dianggap dewasa manakala sudah berusia 40 tahun. Oleh karena itu, meski Puntadewa putra sulung Pandawa sudah berusia 25 tahun, dinilai belum layak mewarisi tahta raja Ngastina.

“Pikirannya masih labil, wong kencing saja belum lempeng.” Kata Pendita Durna dalam sebuah diskusi politik di warung Lombok Ijo.

“Tapi dalam Islam, asal sudah mimpi basah sudah dianggap akil balig.” Tangkis Resi Bisma yang pro Pendawa mengingatkan. Tapi ya itu tadi, nggak pernah digubris.

“Stop, politik tak boleh dicampur-adukkan dengan agama. Ujung-ujungnya nanti ada kriminalisasi ulama.” Patih Sengkuni mencoba menengahi.

Begitulah pemerintahan Prabu Duryudana, setiap usaha mengkritisi definisi “dewasa” selalu dianggap subversi. Tokoh-tokoh yang selalu menyuarakan itu tak diberi posisi. Paling tinggi jadi Dubes di negri Afrika, sedangkan oposan lainnya rata-rata cuma jadi Kepala Dinas atau Kepala Urusan di pemerintahan Ngastina.

Capek menunggu janji-janji Prabu Duryudana beserta kroninya, Prabu Puntadewa yang kini telah bermahkota raja di Ngamarta, mencoba memperjuangkan haknya lewat jalur perang seperti yang pernah diisyaratkan para dewa di kahyangan Jonggring Salaka. Filosofinya adalah: sing bener jejer sing salah seleh (yang benar akan menang, yang salah akan kalah). Karena keyakinan itu pula, Pendawa yakin bakal menang jika Perang Baratayuda digelar.

- Advertisement -