JITAPSARA GUGAT

62 views
- Advertisement -

“Serahkan sama ahlinya.” Jawab  Kresna sambil menunjuk dada sendiri.

“Ahli hisap rokok ngkali,” komentar Betara Narada sinis.

Setelah terjadi perdebatan seru, karena Sukmawicara mencurigai netralitas kahyangan diragukan, skenario Baratayuda berhasil ditetapkan. Setelah diprint dan diteken SBG, aslinya disimpan dalam arsip Jonggring Salaka, duplikatnya yang telah dilaminating dibawa Sukmawicara turun ke bumi. Namun baru sampai gapura Sela Matangkep ketemu Sukmalanggeng yang tak lain rokh Harjuna yang mau menyusul ke kahyangan.

“Tenang, tenang. Dalam Perang Baratayuda nanti, Pendawa bakal menang. Skenario rahasia Perang Baratayuda sudah saya pegang, yuk kita pulang Dimas.”

“Jadi semuanya sudah beres? Saya pikir kakanda prabu mau kabur setelah terima honor pengacara.” Sindir Harjuna.

“Memangnya Kresna cowok apaan?”

Tiba di Istana Balekambang keduanya segera ngraga sukma (masuk ke tubuh). Namun baru mau keluar dari kamar peristirahatan, ternyata sudah dicegat Patih Sengkuni dan Durna. Mereka minta agar duplikat Jitapsara diserahkan, minimal diberi fotokopinya. Tentu saja Betara Kresna menolak, dengan alasan ini bagian dari kode etik profesi pengacara.

“Sampeyan memang pengacara hitam, mau menang sendiri.” Tuduh Sengkuni.

“Cabut kata-katamu itu. Tanpa jadi pengacara pun, tubuhku memang hitam, tahu!” sergah Betara Kresna (kresna = hitam) sewot, karena diledek anatominya.

Maunya Sengkuni, naskah Jitapsara harus direbut dengan kekerasan. Tapi belum sampai merampas tas president Betara Kresna, dia sudah diseret Haryo Setyaki. Pendita Durna mau membantu malah dihajarnya sekalian, sehingga keduanya kembali ke Ngastina dengan tangan hampa. (Ki Guna Watoncarita).

 

- Advertisement -