Israel vs Iran Diambang Perang Terbuka

543 views
Dua seteru bebuyutan, Israel dan Iran diambang perang terbuka akibat serangan udara Israel ke fasilitas militer Iran di Suriah sejak 30 Jan. lalu
- Advertisement -

SURIAH “bagai orang yang terjatuh, terimpit tangga”, tidak habis-habisnya dirundung konflik berdarah diawali sejak perlawanan massa terhadap pemerintah di tengah euforia gerakan “musim semi Arab“ pada 2011.

Aksi damai melawan Presiden Bashar al-Assad yang mulai digelar pada Maret 2011 berubah menjadi tragedi perang sipil melibatkan negara-negara di kawasan dan “pemain” global: Amerika Serikat dan Rusia.

Bashar sendiri menggantikan kedudukannya ayahnya, Hafez Al-Assad pada 2000 yang berkuasa dengan tangan besi selama hampir tiga dekade (1971 – 2000) sebagai presiden Suriah.

Diperkirakan sekitar 350-ribu orang tewas, puluhan ribu luka-luka dan jutaan mengungsi, tidak saja ke wilayah tetangganya, tapi juga ke daratan Eropa sejak konflik yang sudah memasuki tahun ke-delapan itu. Ribuan diantaranya tenggelam atau terdampar, tidak pernah mencapai tujuan.

Suriah yang menjadi salah satu kekuatan negara-negara Arab melawan Israel terutama dalam dua perang besar yakni Perang Enam Hari 1967 dan Yom Kippur 1973 secara insidentil sampai hari ini juga masih terlibat pertempuran dengan musuh bebuyutannya itu.

Saat diproklamasikannya Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) pada 1999, wilayah al-Raqqah yang dijadikan basis operasi kelompok tersebut di Suriah juga porak-poranda digempur oleh pasukan koalisi yang akhirnya berhasil menumpasnya.

Ironisnya, pihak-pihak yang bertikai di Suriah maupun kekuatan regional dan global bersatu menghadapi NIIS yang semula ingin mendirikan negara khilafah di Irak dan Suriah.

Hancurnya seluruh kekuatan NIIS baik di Irak dan Suriah pada akhir 2017 membuat para pemain kawasan dan global kembali mengendepankan kepentingan masing-masing di Suriah.

Iran yang mendukung rezim Bashar al-Assad menempatkan Garda Revolusi dari satuan al-Quds dan juga milisi binaanya di Lebanon, Hesbollah di wilayah Suriah untuk melancarkan operasi melawan Israel.

- Advertisement -