Saya Ingin Peternak dan Petani Indonesia Memiliki Daulat Pangan

91 views
- Advertisement -

JAKARTA (KBK) – Usai pensiun dari American Home di tahun 2007 Sudarmoko memilih untuk menjadi peternak. Bak gayung bersambut pria kelahiran Nganjuk 66 tahun silam itu ditawari sebidang tanah di Desa Cigeureung, Kecamatan Cigeger, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kendati pernah menduduki jabatan bergengsi selama bekerja, namun ayah dua orang anak itu tak canggung jadi pengangon sapi.

“Ini keinginan saya dari kecil. Selama di kampung saya lihat peternak itu sulit dan selalu merugi ketika menjual sapinya. Saya ingin buktikan kalau beternak itu harus berhasil,” ujar pria yang lama menghabiskan masa kecilnya di Pacitan, Jawa Timur.

Berbekal ilmu peternakan dari tempatnya bekerja dan pengetahuan pertanian yang ia timba selama menjadi mahsiswa di UNAIR Surabaya, Suradmoko membuka peternakan sapi perah dibawah bendera koperasi Lembah Kamuning Dairy Farm bentukannya. Di lahan 2 hektar itu pria yang akrab disapa Moko itu mendirikan kandang sapi perah, sapi potong, silo penampung susu dan sepetak lahan perkebunan. Setelah semua infrastruktur pendukung ia bangun, Moko tersandung perijinan yang tak kunjung keluar dari dinas terkait. Terlebih Moko juga tak mendapat restu dari koperasi susu tetangga karena dinilai dapat membahayakan posisi mereka yang sudah nyaman dengan sistem ‘permainan’ tengkulak.

Tak berpanjang kalam, Moko mengambil langkah strategis. Ia pergi ke Jakarta dan berhasil menemui teman sekelasnya sewaktu duduk di bangku SMA yang tak lain adalah Presiden RI kala itu Susilo Bambang Yudhoyono. Berhasil memperoleh surat ijin berlogo garuda, Moko mantab meneruskan koperasi ternaknya. Koperasi tetangga Moko yang awalnya skeptis dan sinis terhadap dirinya, perlahan sirna ketika orang pertama di Republik ini bertandang untuk melihat sistem pengelolaan ternak Lembah Kamuning Dairy Farm.

- Advertisement -