PENDITA DURNA BANDAN

83 views
Sesuai dengan karaktertnya, Betara Surya mau ditraktir kencan dengan artis top bertarif Rp 80 juta, tapi menolak dengan alasan sudah tidak orsinil lagi.
- Advertisement -

JAGAD wayang modern juga tak lepas akan kebutuhan minyak dan gas. Mobil-mobil para wayang bisa jalan harus dengan BBM, dapur-dapur para ibu wayang bisa mengepul juga karena bahan bakar gas. Dengan demikian sebagaimana manusia, para wayang baik yang di ngercapada maupun kahyangan, sama-sama tergantung distribusi dan alokasi minyak bumi dan gas (migas).

Awalnya pengelolaan migas dipegang oleh Betari Durga, eks istri Betara Guru. Tapi karena jim Jaramaya dan Jarameya ikut main di Pasetran Gandamayit, distribusi migas menjadi kacau balau sarat dengan praktek-praktek korupsi. Akhirnya Betara Guru memutuskan, pengelolaan migas diserahkan pada sumber aslinya, penguasa di kahyangan Ekapratala, Resi Bedawanganala.

“Kenapa adi Guru serahkan pengelolaan migas pada Bedawanganala? Tugas dia kan cukup bagian produksi, bukan distribusi.” Ujar Betara Narada mohon penjelasan.

“Dia kan seorang resi, golongan wayang suci, sehingga moralitasnya pasti sangat jaminan mutu,” jawab Betara Guru serius.

“Alah, mbelgedes,” potong Betara Narada sambil menjep (mencibir).

Logikanya memang begitu. Tapi Betara Guru lupa bahwa belakangan banyak tokoh yang nyolong pethek. Statusnya ustadz dan jadi presiden partai agama, eh …..ternyata korupsi daging sapi impor. Partai yang sesumbar “katakan tidak pada korupsi”, elit politiknya malah paling getol mencuri harta negara. Jadi kesimpulannnya banyak musang yang berbulu ayam. Tampang intelek, kelakuan seperti telek (kotoran ayam).

Betara Narada boleh oposisi dan disenting opinion, tapi kekuasaan Betara Guru kan seperti dewan juri sayembara TTS: tak bisa diganggu gugat. Resi Bedawanganala penguasa lautan Ekapratala kemudian ditunjuk sebagai produsen sekaligus distributor migas segenap dunia wayang. Agar dia bekerja semakin jujur kebal suap, sengaja gajinya dinaikkan menjadi Rp 250 juta sebulan sesuai petunjuk Capres dalam debat.

- Advertisement -