BALE SIGALA-GALA

321 views
- Advertisement -

Ketika Puntadewa dan keempat adiknya sudah dewasa sehingga laik tahta, mereka menuntut haknya. Namun Prabu Duryudana beserta ke-99 adiknya memang licik. Jawabnya selalu mengacu pada ilmu ibu rumah tangga yang ditagih tukang kredit; entar-entar!

“Mas Duryudana, bulan depan Keluarga Pendawa akan kemari. Pokoknya Kerajaan Ngastina harus segera dikembalikan, sebab itu hak kami…!” begitu kata Bratasena dalam WA-nya kepada Prabu Duryudana. Nada bicaranya keras, sebab kesal dan capek terlalu sering dibohongi.

“Beres Dik, jangan kuatir. Datang saja ke sini, jangan lupa bawa kartu gaple, ya?!” jawab Duryudana mencoba mengalihkan persoalan.

Buru-buru Duryudana memanggil Patih Sangkuni di Plasa Jenar Permai dan Pandita Durna di Sokalima Indah. Mereka mengadakan sidang kilat, bagaimana cara menangkal tuntutan Keluarga Pendawa.

“Bandel juga itu anak. Cuma modal girik saja ngotot mengklaim bumi Ngastina, Tenang saja anak prabu, kita kan pegang sertifikatnya. Sampai Pengadilan mana pun nggak bakalan menang dia…!” jawab Pandita Durna optimis, demi melihat wajah-wajah cemas Prabu Duryudana.

“Tapi sertifikat sampeyan aspal, ngurusnya dulu  cuma modal girik bodong, kan?” celoteh Senjaya, anak Yamawidu­ra, yang dalam sidang itu ditugaskan untuk notulen.

“Ah, kamu anak ingusan tahu apa! Jangan mencampuri urusan wayang tua. Kuliah saja yang benar, jangan memikir-kan politik segala…!” tegor Pandita Durna keras.

Senjaya memang jujur sejujur Yamawidura ayahnya yang menjadi Jaksa Tinggi di Ngastina. Namun tokoh pincang ini cuma dianggap pupuk bawang. Meskipun pertimbangan hukum selalu dimintai, oleh keluarga Ngastina tak pernah diterapkan. Maka sebagai obsesinya, Yamawidura menyekolahkan Senjaya ke Fakultas Hukum UWB (Universitas Wiratha Bersubsidi). Dia harapkan anaknya kelak menjadi ahli hu-kum yang handal, yang tak akan diremehkan wayang.

- Advertisement -