BALE SIGALA-GALA

185 views
- Advertisement -

Tanpa mempedulikan sindiran Senjaya, sidang istimewa itu terus berlangsung. Ketika bir telah habis 10 botol, ketika 5 piring goreng singkong tinggal piring-piringnya saja, sidang baru selesai. Dari sidang itu diperoleh keputusan bahwa Keluarga Pendawa akan diperdayai. Dalam Gedung Bale Sigala-gala mereka akan disuguhi biskuit yang tercemar so­dium nitrit, dan kemudian dibakar agar binasa.

Hari berikutnya tender untuk pembangunan Gedung Bale Sigala-gala segera dilangsungkan. Sebagai pemenangnya adalah PT Karya Culika milik Durmogati, dengan penawaran terendah Rp 2,5 miliar. Karena mau untung lebih banyak lagi, sengaja Durmogati nyolong bestek seenak wudelnya. Kayu-kayu yang dalam bestek disebut kamper ovenan, diganti kayu Kalimantan. Atap sirap, enak saja ditukar triplek bekas beli di Jalan Perintis Kemerdekaan. Lantai yang seharusnya karpet beludru diakali pakai karpet plastik dari Pasar Kaget.

“Alaaa, yang penting kan gampang terbakar. Iya nggak, iya nggak?” jawab Durmagati ketika Patih Sengkuni selaku pengawas dan direksi proyek meninjau pekerjaan. Dan karena amplop berisi uang segepok dimasukkan dalam kantongnya, Patih Sangkuni akhirnya cuma nyengenges masa bodoh.

Tepat pada hari yang dijanjikan, Keluarga Pendawa yang terdiri Kangka (Puntadewa), Bratasena (Werkudara), Premadi (Harjuna), Pinten (Nakula), Tangsen (Sadewa) dan ibunya, Dewi Kunti, datang ke Kerajaan Ngastina dengan mencarter Grabb. Mereka datang agak terlambat karena lewat jalan kampung, maklum menghindari aturan ganjil-genap.

Prabu Duryudana dan Patih Sengkuni menyambut ramah dengan segala pakaian kebesarannya. Pandita Durna pakai jubah baru yang masih ada label harganya. Tangan kanan pegang tasbeh, tangan kiri pegang HP android.

“Adik-adik Pendawa sekalian, sebelum berita acara serah terima kerajaan ditandatangani, kita sebaiknya makan-makan dulu di Gedung Bale Sigala-gala. Maafkan bila tempatnya kurang berkenan, sebab mau sewa Bale Kartini, Bale Sidang Senayan, Balekota Blok G semuanya sudah terpakai!” basa-basi Duryudana begitu melihat reaksi Keluarga Penda­wa yang kurang sreg menyaksikan bangunan asal jadi itu.

- Advertisement -