BALE SIGALA-GALA

321 views
- Advertisement -

Sambil menikmati organ tunggal, pesta di Bale Sigala-gala berlangsung meriah. Setelah minum-minum, biskuit yang tercemar sodium nitrit hasil razia di pasar sengaja dihidangkan untuk Keluarga Pendawa. Mak­lum saja, karena putra-putra Pendawa lebih banyak di hutan, jadi tak pernah membaca koran. Maka biskuit bermerek tertentu yang dilarang dikonsumsi itu justru mereka makan secara lahap.

Beberapa menit kemudian, Tangsen teler, menyusul Pinten. Premadi, Kangka dan Dewi Kunti juga ikut klepek-klepek mbanyaki (payah). Cuma Bratasena yang hanya makan sepotong, masih bisa menguasai diri.

Melihat Keluarga Pendawa sudah teler keracunan, Pandita Durna segera memerintahkan wayang-wayang Ngastina un­tuk membakar Bale Sigala-gala. Bangunan yang sengaja dibuat rawan api tersebut dalam tempo sekejap rata dikuasai jago merah. Keluarga Ngastina bertepuk tangan, mereka yakin Keluarga Pendawa tamat riwayatnya.

“Tumpes kelor (tewas bersama seluruh keturunan) kau sekarang Kunti dan anak-anakmu”pekik Pandita Durna sambil meloncat-loncat sampai celananya melorot.

Senjaya mahasiswa Fakultas Hukum yang dari kemarin oposisi terhadap rencana Ngastina, kala itu berada tak jauh dari gedung bersiap-siap memberikan pertolongan. Maka begitu api membesar, dia melemparkan ajian miliknya ke api dalam gedung. Reaksinya luar biasa, tanah tempat jatuhnya ajian itu jadi berlobang cukup besar.

“Wahai Keluarga Pendawa, jangan bengong aja luh!” Mau selamat nggak, ikuti GaranganPutih itu…!” perintah sebuah suara tanpa wujud, yang sebenarnya Sanghyang Narada yang ketika itu memantau insiden tersebut dari Kahyangan Jonggring Salaka.

Benar juga, sewaktu Bratasena mengikuti arah Garangan Putih, langkahnya tiba di jalan mulus laksana MHT. Jalan tersebut berada di dalam tanah, dan ketika diikuti terus ternyata Keluarga Pendawa tiba di istana Saptapratala tempat tinggal Sanghyang Antaboga. Bersamaan dengan itu guide partikelir Garangan Putih pun menghilang.

- Advertisement -