BALE SIGALA-GALA

321 views
Puntadewa disambut Prabu Jakapitana, didampingi Pendita Durna.
- Advertisement -

SEWAKTU muda, Prabu Kresna Dwipayana atau Abiyasa agaknya suka “jajan”. Bukan kalangan artis seharga Rp 80 juta, tapi hanya cewek-cewek murahan. Buktinya, ketiga anak lelakinya lahir berkebetuhan khusus. Putra sulung Destarata, bermata buta. Putra kedua, Pandu, leher berkemiringan 45 drajat alias tengeng. Yang ketiga, Yamawidura, berkaki pincang.

Maka ketika Prabu Abiyasa lengser keprabon (turun tahta) dari Kerajaan Ngastina, dari yang terbaik dari yang buruk-buruk, akhirnya pilihan jatuh pada Pandu. Sayangnya suksesi di Kerajaan Ngastina ternyata tak berlangsung mulus. Baru beberapa tahun memerintah, Prabu Pandu Dewanata meninggal akibat keisengannya membunuh rusa sedang kawin. Maka tahta kerajaan seharusnya jatuh kepada putranya lagi, yakni Puntadewa, sebagai anak sulung Keluarga Pendawa. Sayang, waktu itu anak-anak Pandu masih kecil, sehingga tampuk pimpinan untuk sementara diberikan kepada putra Destarata tertua, Duryudana, yang waktu itu memang sudah akil balig dan mimpi basah!

“Tapi ingat, bila anak-anakku Pendawa sudah dewasa, harap tahta kerajaan diserahkan kepadanya,” begitu pesan Pandu Dewanata sebelum nyawanya dibanjut (dicabut) oleh Yamadipati, malaikat Izroil versi pewayangan.

Hidup dalam kenikmatan memang sering membuat lupa. Tahu betapa asyiknya menjadi raja Ngastina, Duryudana bermaksud mempertahankan singgasana yang bukan haknya. Apalagi ibunya, Dewi Gendari, juga menyeponsori dan menghasut agar tidak mengembalikan kerajaan yang sering disebut Indraprasta itu. Destarata sebenarnya tak setuju sikap istri dan anaknya, tapi apa daya sebagai wayang buta. Maka dari itu dia lebih baik diam tak ambil pusing, karena lebih mengkonsentrasikan diri pada rencananya untuk bikin panti pijat tradisional!

Kelicikan Duryudana semakin menjadi-jadi setelah mengangkat Harya Suman atau Sengkuni menjadi patih. Dibantu oleh Pandita Durna si Menteri Paranormal dan Kebatinan, tanah Kerajaan Ngastina yang pethuk (girik) aslinya masih dipegang Keluarga Pendawa, langsung saja disertifikatkan. Mereka pikir dengan cara begitu Kerajaan Ngastina bisa dipertahankan seterusnya.

- Advertisement -