Pers, Benteng Lawan Hoaks

24 views
Presiden Joko Widodo pada perayaan Hari Pers Nasional (HPN) di Surabaya, Sabtu (8/2)menerima medali Kemerdekaan Pers karena selama lima tahun kepemimpinannya tidak pernah mengintervensi kebebasan pers.
- Advertisement -

PRESIDEN Joko Widodo menilai, media arus utama (pers) sangat diperlukan kehadirannya menjadi wahana penjernih informasi serta penyaji berita dan kabar yang terverifikasi.

Penilaian presiden tersebut disampaikan pada Hari Pers Nasional (HPN) 2019 yang digelar di Grand City, Surabaya, Sabtu (2/9) dihadiri a.l. oleh Menkominfo Rudiantara, Ketua MPR Zulkifli Hassan, anggota korps diplomatik, Gubernur Jatim Soekarwo, Ketua PWI atal SEmbiring dan sejumlah tokoh pers.

Jokowi meminta agar pers menjalankan perannya sebagai komunikator, penangkal hoaks yang kehadirannya dibutuhkan untuk memberikan harapan-harapan besar bagi bangsa Indonesia.

Menurut dia, peran media utama kian penting untuk mengaplikasikan kebenaran dan menyingkap fakta, terutama di tengah keganasan informasi pascafakta dan pascakebenaran.

“Dengan demikian, dampak buruk keganasan informasi hoaks bisa dicegah dan diatasi, “ kata Presiden.
Diungkapkan oleh Jokowi, 143,2 juta orang (54,6 persen) atau lebih separuh dari jumlah total penduduk negeri ini (261,9 juta) menggunakan internet, sementara pengguna medsos 124,4 juta jiwa atau 87 persen dari jumlah pengguna internet.

Bahkan tidak jarang, isu-isu yang viral di media sosial menjadi rujukan informasi bagi media konvensional, padahal, menurut Edelman Trust Barometer 2018 yang dikutip Presiden, kepercayaan publik terhadap media arus utama makin meningkat.

Presiden menyebutkan, tingkat kepercyaaan terhadap pers pada 2016 59 persen berbanding 45 persen terhadap medsos, sementara pada tahun berikutnya turun menjadi 58 persen berbanding 42 persen, dan pada 2018, tercatat 63 persen berbanding 40 persen.

Singkat kata, lanjut Jokowie, pers masih lebih percaya pada media arus utama
Jokowi juga berharap, pers hendaknya mempertahankan misi untuk mencari fakta dan membangun optimisme ketika pemerintah memaparkan capaian pembangunan.

- Advertisement -