INDONESIA SIAP SIAGA

150 views
LOGISTIK - Tim Dompet Dhuafa bersama tim kemanusiaan lainnya difasilitasi TNI AL mengantarkan logistik untuk korban stunami Selat Sunda di Pulau Sebesi, Januari 2019 lalu. Foto: Adhika Prabowo/Dompet Dhuafa
- Advertisement -

Sepanjang 2018 banyak bencana yang terjadi di Indonesia, menuntut kita harus siap siaga di tahun 2019.

Tahun 2018 boleh disebut tahunpaling banyak terjadi bencana di Indonesia. Pusat Gempa Bumi Badan Meterologi Klimatologi Geofisika (BMKG) mencatat ada 23 gempa yang merusak selama 2018. Dan masih banyak gempa kecil lainnya dan diiringi pula oleh berbagai musibah yang tak kalah dahsyatnya.

Dimulai dari gempa Lebak yang terjadi 23 Januari 2018 dengan kekuatan 6,1 Skala Richter (SR) merusak 1.231 rumah, satu orang meninggal, dan beberapa orang luka-luka. Kemudian Gempa Geumpang Aceh Barat pada 8 Februari 2018 dengan kekuatan 6,3 SR merusak 11 rumah dan 1 masjid.

Gempa Sumenep pada 13 Juni 2018 dengan magnitudo 4,8 SR merusak 77 rumah dan menyebabkan enam orang luka-luka. Gempa Lebak pada 7 Juli 2018 dengan kekuatan 4,4 SR merusak 28 rumah. Gempa Muara Teweh pada 12 Juli 2018 dengan magnitudo 4,4 SR merusak beberapa rumah.

Adapun gempa di Kepulauan Mentawai pada 20 Juli 2018 dengan kekuatan 5,2 SR merusak 12 rumah. Sementara itu, gempa Padang Panjang yang terjadi 21 Juli 2018 dengan magnitudo 5,3 SR merusak 12 rumah.

Gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 29 Juli 2018 yang berkekuatan 6,4 SR menyebabkan 1.000 rumah rusak dan 14 orang meninggal dunia. Gempa Lombok pada 5 Agustus 2018 dengan magnitudo 7 SR menyebabkan 71.992 rumah rusak dan 479 orang meninggal dunia.

Gempa Lombok pada 9 Agustus 2018 dengan magnitudo 5,8 SR merusak 67.875 rumah, 3 rumah sakit, 10 puskesmas, dan menyebabkan 321 orang meninggal.

Kemudian Gempa Manggarai pada 17 Agustus 2018 berkekuatan 6,2 SR merusak 151 rumah dan beberapa orang luka-luka. Sementara, gempa Lombok pada 19 Agustus 2018 dengan kekuatan 6,2 SR dan 6,9 SR merusak 151 rumah dan menyebabkan 10 orang meninggal. Total korban meninggal akibat gempa Lombok mencapai lebih dari 555 orang dan ribuan rumah rusak.

Gempa Donggala dan Palu yang terjadi pada 28 September 2018 dengan magnitudo 6 SR dan 7,5 SR merupakan gempa bumi terparah, khususnya gempa Palu yang diikuti tsunami dan likuifaksi. Total dampak gempa Donggala dan Palu menyebabkan lebih dari 2.000 orang meninggal, lebih dari 1.000 orang hilang, dan ribuan rumah rusak.

Gempa Sumba Timur pada 1 Oktober 2018 dengan magnitudo 6 SR merusak banyak rumah dan beberapa orang luka. Adapun gempa Sumba Timur pada 2 Oktober 2018 dengan kekuatan 6,3 SR merusak banyak rumah.

Gempa Sumenep pada 10 Oktober 2018 dengan kekuatan 6,4 SR merusak puluhan rumah dan 3 orang meninggal. Gempa Mamasa pada 3 November 2018 dengan magnitudo 4,7 SR dan 8 November 2018 dengan magnitudo 5,1 SR menyebabkan beberapa rumah rusak ringan.
Gempa Sangihe-Talaud pada 6 November 2018 dengan magnitudo 5,3 SR merusak beberapa rumah. Gempa Manokwari Selatan 28 Desember 2018 dengan magnitudo 6 SR merusak beberapa rumah.

Selain gempa, ada bencana tsunami yang juga tidak kalah dahsyatnya memporakporandakan wilayah Pandeglang, Banten dan Lampung Selatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan Tsunami Selat Sunda yang terjadi Pukul 22.00 WIB, (22/12/2018) hingga Senin (31/12/2018) pukul 13.00 WIB, mencatat 437 orang meninggal dunia.

Wilayah yang terdampak tsunami di Kabupaten Pandeglang mencakup 13 kecamatan, dimulai dari kawasan Pantai Carita hingga Kecamatan Sumur. Sementara di Kabupaten Serang dua kecamatan terdampak, di Kabupaten Lampung Selatan empat kecamatan terdampak, dan Kabupaten Tanggamus serta Pesawaran masing-masing satu kecamatan terdampak.

Selain korban meninggal, tercatat 14.059 orang luka-luka, 16 orang hilang, dan 33.721 mengungsi. Sebanyak 2.752 rumah rusak, 92 penginapan dan warung rusak, 510 perahu dan kapal rusak, serta 147 kendaraan rusak. Data ini masih sangat mungkin bertambah seiring pencatatan yang terus dilakukan.

“Ini data sementara yang kemungkinan masih akan bertambah, baik jumlah korban maupun kerusakannya,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Belum selesai tanggap darurat tsunami Selat Sunda, kabar duka kembali datang dari tanah Pasundan terjadi banjir besar di Labuan, Pandeglang (27/12/2018), merendam 2.310 unit rumah, menyebabkan rumah rusak berat sebanyak 202 unit, rumah hilang 52 unit, sawah rusak 594 hektare, sekolah rusak 11 unit sekolah dan dua jembatan rusak.

Respon banjir belum selesai , tiba-tiba terjadi longsor di Kampung Garehong, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin (31/12/2018).

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, hingga pukul 02:30, Selasa (1/1/2019), tercatat 32 kepala keluarga (107 jiwa terdampak longsor Cisolok Sukabumi dan Tim Search and Rescue (SAR) gabungan telah berhasil menemukan sebanyak 32 korban dari 33 korban yang dilaporkan hilang tertimbun bencana tanah longsor itu. Satu orang sudah diikhlaskan pihak keluarga karena pencarian korban longsor dihentikan sejalan dengan habisnya masa darurat yang ditetapkan pemerintah.

Setiap bencana terjadi, Dompet Dhuafa segera mengirimkan tim respon dan ketika masa darurat selesai tim pemulihan Dompet Dhuafa pun mulai bergerak. Karena banyaknya bencana yang terjadi, Dompet Dhuafa pun kembali menghimbau rakyat Indonesia untuk selalu Siap Siaga Bencana.

- Advertisement -