Asa Damai Yang Tertunda di Hanoi

30 views
Situs nuklir Korut di Yongbyong yang diminta AS dihancurkan. KTT Hanoi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korut Kim Jong Un (19 - 21 Feb) gagal meraih kesepakatan karena AS meyakini Korut masih memiliki situs-situs nuklir, sebaliknya Korut menuntut pencabutan embargo lebih dulu.
- Advertisement -

VIETNAM dianggap pihak yang paling suskses sebagai tuan rumah penyelenggara temu muka Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, walau pertemuannya sendiri gagal meraih kesepakatan yang dinanti.

Kim dan Trump memilih ibukota Vietnam, Hanoi sebagai kelanjutan pertemuan mereka di Singapura Juni 2018 guna membahas isu denuklirisasi Korut, padahal Vietnam sebelumnya adalah seteru AS yang terlibat perang antara 1957 dan 1975.

Perang sepanjang 17 tahun lebih itu menewaskan sekitar 1,2 juta tentara Vietcong, Vietnam Utara dan sekitar 55.000 tentara AS.

Sangat disayangkan, pertemuan yang diharapkan akan mewujudkan perdamaian di Semenanjung Korea itu “jalan di tempat” karena masing-masing pihak bersikukuh, tidak bergeser dari posisi mereka.

Trump membatalkan jadwal jamuan makan siang, Kamis (28/2) dan bergegas menuju Bandara Ni Bai, Hanoi menuju Washington sore hari setelah menolak tuntutan Kim bagi pencabutan sanksi embargo sebagai imbalan perlucutan fasilitas nuklir utama Korut di Yongbyon.

“Korut menginginkan seluruh sanksi dicabut, namun kami tidak dapat memenuhinya, “ tandas Trump dalam jumpa pers sebelum meninggalkan Hanoi.

Pihak AS berdasarkan citra satelit, meyakini bahwa dibalik penghancuran sejumlah situs-situs nuklirnya, Korut masih menyisakan sebagian diantaranya.

Sanksi Embargo PBB

DK PBB dimotori AS a.l. mengenakan sanksi ekspor batubara, besi dan bijih besi, logam mulia, bahan bakar roket dan pesawat (kecuali penerbangan komersil) terhadap Korut.

Sanksi diperberat dengan larangan transaksi seluruh kondensat dan gas, ekspor tekstil dan larangan kerja bagi warga Korut di luar negeri setelah Korut bergeming dan melakukan enam kali ujicoba nuklir sampai Septembet 2017.

Entah apa yang terjadi di menit-menit terakhir, karena saat ditanya wartawan, Kim memberikan signal pada wartawan terkait kesediaannya memenuhi tuntutan Trump untuk melucuti seluruh program nuklirnya. “Jika tidak untuk melakukan itu, ngapain saya kemari, “ katanya.

- Advertisement -