Aljazair: Si Gaek Bouteflika Emoh Lengser

27 views
Puluhan ribu warga ibukota Aljazair, Algiers dan kota-kota lain di negeri itu berunjukrasa sejak Jumat lalu (28/1) menentang pencalonan kembali untuk kelima kalinya Presiden Abdelaziz Bouteflika (82) yang sudah uzur dan sakit-sakitan
- Advertisement -

KEKUASAAN atau jabatan kadang-kadang juga identik dengan candu, sekali dipegang, tidak bakal dilepaskan, kecuali dipaksa, apalagi jika tidak ada pasal undang-undang yang membatasinya.

Kondisi seperti itu dialami Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika (82) yang tetap ngotot mencalonkan diri lagi kelima kalinya dalam pilpres di negara terbesar di tepi Laut Merah, Afrika Utara itu, 18 April 2019.

Puluhan ribuan warga turun ke jalan di ibukota Aljiers dan sejumlah kota lainnya sejak Jumat hingga Minggu lalu untuk menolak pencalonan Bouteflika yang dianggap sudah ujur dan sakit-sakitan sehingga dikuatirkan tidak akan mampu mengelola negara.

Unjuk rasa kali ini yang terbesar setelah gelombang aksi massa yang pernah melanda sejumlah negara Arab secara bersamaan pada musim semi, Arab pada 2011.

Para pengunjukrasa meneriakkan yel-yel dan membawa spanduk memuat narasi penolakan terhadap Bouteflika seperti “ tidak untuk jabatan ke lima kali atau “nyah lah Bouteflika”.

Selain di Aljiers, aksi massa juga dilaporkan merebak ke kota –kota lain seperti Batna, Blida, Buoira, shikda dan Oran. Seorang pendemo dilaporkan tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam aksi unjukrasa Jumat lalu.

Selain uzur karene dimakan usia, Bouteflika yang menderita kanker dan mengalami stroke, dalam beberapa tahan balakangan ini keluar masuk rumah sakit di Swiss.

Situasi politik di negeri berpenduduk 37 juta bekas jajahan Perancis itu bergejolak setelah Bouteflika dalam jumpa pers 10 Februari lalu memastikan diri ikut pilpres April nanti.

Bouteflika pertama kali menduduki singgasana kepresidenan pada 1999 dan terpilih lagi berturut-turut dalam pilpres 2004, 2009 dan 2014.

Rencana pencalonan Bouteflika juga didukung pengikut setianya, PM Ahmed Ouyahiya yang mengingatkan rakyat, penolakan terhadap Bouteflika bisa membuat negeri itu menuju tubir jurang perang saudara seperti terjadi di Suriah.

- Advertisement -