Derita Tak Berujung Etnis Rohingya

224 views
Etnis Rohingya yang mengungsi dari tempat tinggalnya di Negara Bagian Rakhine Myanmar akibat dikejar- -kejar militer negara itu.
- Advertisement -

SAMPAI hari ini, belum ada solusi yang bisa membuat kelompok etnis minoritas muslim di Negara Bagian Arakan (Rakhine), Myanmar bebas dari kemiskinan, aksi diskriminasi dan kekerasan serta persekusi.

Sekitar satu hingga 1,3 juta etnis Rohingya (disebut Arakan oleh Myanmar) hidup dalam kesengsaraan dan ketidakpastian, karena kebangsaannya tidak diakui oleh rezim junta militer Myanmar, begitu pula sekitar 900 ribu lainnya yang ditolak oleh Bangladesh.

Ketegangan meningkat kembali saat kelompok militan Rohingya (Arakan Salvation Army –ARSA) menyerang dan menewaskan sembilan polisi Myanmar di dekat ibukota Arakan, Sitwe, Sabtu lalu (3/9).

Serangan yang terjadi di ruas jalan penghubung utama antara wilayah Arakan dengan seluruh Myanmar, sekitar 50 Km dari Sitwe itu tentu saja merisaukan warga akan kemungkinan aksi balas dendam oleh kelompok warga etnis mayoritas dan tentara atau polisi Myanmar.

Kementerian Informasi Myanmar dalam pernyataannya mengakui, sembilan anggota polisi yang direkrut dari desa-desa terdekat di wilayah itu tewas dalam baku tembak yang berlangsung 20 menit, dan seorang lagi belum ditemukan.

Sementara militer Myanmar menyebutkan, pasukan pemerintah terlibat kontak senjata melawan 200 pemberontak ARSA di sejumlah lokasi berbeda di sepanjang tapal batas Myanmar dan Bangladesh.

Kontak senjata antara militer Myanmar dan ARSA meningkat sejak Desember tahun lalu, dan pada pada kejadian Januari lalu menewaskan 13 anggota polisi Myanmar.

Rezim junta militer Myanmar sendiri menolak untuk berkompromi terhadap etnis Rohingya yang memperjuangkan wilayah otonomi di Arakan dan melarang masuknya bantuan kemanusiaan asing ke wilayah itu.

Bahkan sejak 2017, militer mengambil sikap keras dalam merespons akis-aksi serangan ARSA sehingga memaksa eksodus sekitar 730.000 etnis Rohingya yang mencoba menyeberangi tapal batas menuju kam penampungan pengungsi Cox Bazar di Bangladesh.

- Advertisement -