Pemilu Korut: Pemilih Cukup Nyatakan “ya” atau “tidak”

684 views
Presiden Korut Kim Jong-un di dapil Universitas Teknologi Kim Chaek, Pyongyang, Minggu (10/3) sedang memasukkan surat suara ke kotak suara dalam Pemilu Legislatif untuk memilih 687 angggota Majelis Tinggi Rakyat (SPA).
- Advertisement -

“LAIN padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”, ungkap pepatah lama, begitu pula uniknya sistem Pemilu Korea Utara yang menyebut dirinya Republik Demokrasi Rakyat Korea.

Penduduk Korut, Minggu (10/3) berbondong-bondong menuju TPS untuk menyatakan “setuju” atau “tidak setuju” terhadap 687 calon anggota Majelis Tertinggi Rakyat (SPA) dan Majelis Rakyat untuk daerah yang dipilih dalam Pemilu yang digelar setiap lima tahun.

Setiap daerah pemilihan (dapil) mencalonkan satu nama untuk caleg yang disusulkan satu-satunya partai di negeri itu Partai Pekerja (Choson rodong-dang) pimpinan Presiden petahana Kim Jong Un.

Sebagai gambaran, pada Pemilu 2014 Kim yang diusulkan Partai Pekerja yang ia pimpin memperoleh suara mutlak atau 100 persen dari dapilnya, dan dalam Pemilu 2019 ini Kim menggunakan hak pilihnya di TPS Universitas Teknologi Kim Chaek, Pyongyang.

Selain Partai Pekerja yang berkuasa sejak 1948, sebenarnya ada dua partai gurem yakni Partai Demokratik Sosial dan Partai Chongu Chondois, namun keduanya terikat secara hukum untuk menerima saja putusan Partai Pekerja. Calon tunggal juga ditentukan dulu oleh Partai Pekerja.

Jelasnya, Partai pekerja berada di bawah naungan koalisi Front Demokratik bagi Penyatuan Tanah Air bersama Partai Demokratik Sosial dan Chongu Chondois.

TPS selain didirikan di kampus-kampus, di halaman pabrik-pabrik dan gedung-gedung pemerintah lainnya, juga TPS keliling diperuntukkan bagi warga lansia atau yang sakit.

Di tangan Kim Jong-un

Berdasarkan konstitusi Korut – negara yang dijuluki lawan-lawannya sebagai otoriter, monarki trah Kim Il Sung atau sebutan netral sebagai negara sosialis itu – SPA adalah institusi pengambil keputusan tertinggi, walau faktanya, kekuasaan sehari-hari di tangan Kim Jong-un.

Anggota SPA hanya bersidang sekali atau dua kali setahun dengan agenda pengesahan peraturan yang diusulkan Partai Pekerja, sedangkan para pemimpinnya sering ikut rapat atau melakukan lobi lobi dengan petinggi eksekutif.

Hanya satu kandidat yang tercantum di kertas suara. Pemilu kabarnya diadakan menggunakan sistem surat suara rahasia.

- Advertisement -