Inggeris Galau Menatap Brexit

33 views
Menjelang awal pemberlakukan keluarnya Inggeris dari Uni Eropa (Brexit) pada 29 Maret, parlemen memenangkan voting proses "hard Brexit" tanpa kesepakatan dengan UE, bertentangan dengan pemerintah dibawah PM Theresa May yang menghendaki "soft Brexit melalui kesepakatan.
- Advertisement -

HANYA tersisa 17 hari menjelang awal berlaku hengkangnya dari keanggotaan di Uni Eropa (UE), parlemen atau Majelis Rendah Inggeris dalam sidangnya, Selasa (12/3) kembali menolak kesepakatan Brexit.

Dalam voting yang digelar kedua kalinya, suara parlemen yang menolak kesepakatan Brexit menang dengan 391 berbanding 242 dibandingkan voting pada Januari lalu dengan hasil 432 yang menolak dan 201 mendukungnya.

Artinya, menurut kalangan UE yang beranggotakan 28 negara dan bermarkas besar di Brussel itu, parlemen Inggeris telah kehilangan kesempatan terakhir untuk mencapai kesepakatan Brexit.

“Tidak ada lagi kesempatan ketiga, “ kata Ketua Komisi Eropa Jean-Claude Juncker.

Hal senada juga disampaikan oleh Komisioner UE Pierre Moscovici yang menyebutkan bahwa pihaknya akan mempercepat persiapan proses hengkangnya Inggeris dari blok politik dan ekonomi Eropa itu tanpa kesepakatan setelah penolakan oleh parlemen Inggeris.

“Sekarang terserah pada Inggeris untuk memutuskan apa yang mereka ingin lakukan atau tidak lakukan, “ tandasnya.

PM May sendiri seperti dikutip CNN mengemukakan, ia sangat menyesal atas keputusan yang diambil parlemen walau tetap yakin, yang terbaik adalah Brexit dari UE dengan tertib melalui kesepakatan.

May menganggap mustahil bagi Inggeris hengkang dari UE tanpa kesepakatan kerja sama dengan negara-negara di kawasan itu dan ia menghendaki “soft Brexit” untuk tetap menjalin hubungan ekonomi seerat mungkin dengan UE.

Oposisi Tolak Brexit dengan Kesepakatan
Sebaliknya, pimpinan kelompok oposisi dari Partai Buruh Jeremy Corbyn meminta agar dilakukan “hard Brexit” tanpa kesepakatan atau tanpa pelibatan UE sebagai prasyarat negosiasi Brexit antara pemerintah dan parlemen.

Berdasarkan hasil voting tersebut, hampir dipastikan mayoritas anggota parlemen bakal menolak opsi Brexit dari UE melalui kesepakatan pada voting berikutnya, Rabu malam (13/3) dan jika ini terjadi, akan digelar voting lagi, Kamis (14/3) guna meminta perpanjangan tenggat Brexit yang seharusnya mulai diberlakukan 29 Maret 2019 ini.

- Advertisement -