Sosok Pelestari Salak Condet

113 views
- Advertisement -

JAKARTA – Bagi Syarifudin (45) salak condet merupakan buah yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Menurut pria yang akrab di sapa Malih itu dulu Cagar Buah Condet yang terletak di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur merupakan hamparan berkebunan milik warga asli Condet.

Di tahun 2007 lahan tersebut termasuk kebun milik Malih seluas 100 meter persegi dibeli oleh Pemprov DKI Jakarta untuk dijadikan Cagar Buah guna melindungi salak condet yang menjadi maskot Jakarta.

Namun dalam perjalannya hampir tak ada yang mengurus Cagar Buah seluas 3,5 hektar tersebut. Prihatin dengan kondisi kebun, Malih dengan sukarela membersihkan area kebun dan merawat tanaman salak tanpa mendapat upah.

“Dulu tumpukan sampahnya sepinggang. Saya bersihin sampai berminggu-minggu,” jelas Malih yang kini tinggal di Sawangan Depok, Jawa Barat.

Malih berujar, baru empat tahun kemudian ada dua orang yang ditugaskan oleh Pemprov untuk mengelola kebun. Namun masih kurangnya tenaga kerja, membuat Malih tetap setia menjadi sukarelawan di Cagar Buah Condet.

“Mungkin karena kasihan akhirnya dua orang pekerja itu menyisihkan gajinya untuk diberikan kepada saya. Alhamdulilah saya dapat Rp 500 ribu per bulan,” jelas ayah dua orang anak itu.

Lambat laun akhirnya Malih dipekerjakan oleh Dinas Pertanian, Perikanan DKI Jakarta menjadi petugas resmi dengan upah UMR. Selama bertugas Malih kerap melakukan eksperimen di antaranya pembibitan dengan teknik sambung pucuk dan menanam salak condet dari biji.

Bila panen Malih bersama 4 orang temannya menjual salak condet dan dukuh kepada pengunjung dan Dinas Pertanian. Uang hasil penjualan kata Malih disetorkan kepada Dinas terkait. Diakui Malih kendala terbesar dalam melestarikan buah asli Jakarta ini adalah serangan kelelawar yang kerap merusak buah.

- Advertisement -