Menghapus Ujian Nasional?

44 views
Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) nyata-nyata mampu menghemat anggaran smapai 70 persen.
- Advertisement -

UJIAN Nasional (Unas) bertujuan untuk standardisasi dan evaluasi mutu pendidikan, sampai di mana penyerapan ilmu si murid –sekarang istilahnya: peserta didik– di bangku sekolah. Dengan Unas pemerintah bisa menyempurnakan segala kekurangan sistem pendidikan kita. Kurikulum selalu berubah-ubah di antaranya juga karena merujuk hasil Unas.

Pada debat Cawapres 17 Maret lalu Sandiaga Uno melempar gagasan, bila menang Pilpres pihaknya akan menghapus Ujian Nasional (Unas) demi menghemat anggaran. Sebagai gantinya, untuk masuk jenjang sekolah lanjutan lewat PMDK (Penelusuran Minat Dan Kemampuan). Semudah itukah menghapus Unas? Lalu menyeleksi jutaan murid tiap tahun, bagaimana caranya? Apa kira-kira Pak Guru tidak gempor dibuatnya?

Makin ke sini mapel (mata pelajaran) di sekolah memang semakin banyak dan susah. Karenanya Unas menjadi momok yang menakutkan. Soalnya masa pendidikan pengajaran selama 3 tahun, hilang percuma jika tidak lulus. Yang lulus pun hanya dihargai dengan selembar kertas atas nama negara yang dinamakan ijazah. Padahal semakin tinggi persaingan, sudah pegang ijazah pun tak ada jaminan bisa memperoleh pekerjaan. Sekedar contoh, dari 7 juta penganggur di Indonesia, 11,24 persen adalah lulusan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), dan 7,95 persen lulusan SMA. Belum lagi penganggur dari kalangan sarjana S1, S2.

Kemudian para pakar dengan berbagai alasan mewacanakan Unas dihapus saja.Pada era Mandikbud Anies Baswedan memberi jalan tengah, Unas tetap diadakan tetapi bukan lagi sebagai penentu kelulusan. Sejak 2015 otonomi penetapan kelulusan siswa menjadi hak sekolah. Namun demikian Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menetapkan nilai standar minimal kelulusan yang harus diacu oleh sekolah.  Untuk lulus Unas 2016, siswa setidaknya memenuhi nilai 5,5 untuk setiap mata pelajaran dan rata-rata minimal 5,5.

- Advertisement -