Waspada! Pancaroba Diselingi Hujan Esktrim

46 views
- Advertisement -

SEBAGIAN wilayah Indonesia seperti Jawa, Bali dan Nusa Tenggara sudah memasuki musim pancaroba sehingga curah hujan rata-rata menurun, namun demikian hujan ekstrim diperkirakan masih terjadi.

Menurut Kasubbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto (4/4), menurunnya intensitas curah hujan rata-rata terjadi akibat dampak penguatan El Nino.

El Niño Osilasi Selatan ( El Niño–Southern Oscillation, ENSO) adalah variasi angin dan suhu permukaan laut di wilayah tropis belahan timur Samudera Pasifik yang berkala maupun tidak. ENSO berpengaruh terhadap cuaca di sebagian besar wilayah tropis dan subtropis.

Intensitas hujan di wilayah Banten, ibukota dan Jawa Barat sejak akhir Maret laluberada sekitar 10 sampai 20 persen berada pada level 150 mm per 10 hari atau di bawah norma rata-rata antara 150 hingga 200 mm.

Namun faktanya, hujan deras dengan curah extrim turun beberapa kali di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat sehingga memicu banjir atau genangan air di kedua wilayah tersebut.

Menurut Siswanto, hujan ekstrim berlangsung di bawah tiga jam meningkat 25 persen dalam 10 tahun terakhir ini, begitu pula dengan intensitas hujan di atas 60 mm per jam yang dalam setahun terjadi tiga sampai empat kali, padahal sebelumnya hana dua atau tiga kejadian.

Hujan deras disertai petir sambung-menymbung yang turun pada Selasa (3/4) lalu di ibukota, Depok dan Bekasi menimbulkan genangan air dan banjir di sejumlah wilayah tersebut.

Sedangkan menurut Deputi Klimatologi BMKG Herizal, pengaruh El Nino yang sudah dideteksi semakin aktif sejak Maet lalu semakin signifikan akibat menurunnya angin monsun Asia walau pun dampaknya tertutup oleh musim hujan.

Menguatnya El Nino berbarengan dengan puncak kemarau membuat kekeringan tahun depan diprakirakan semakin parah sehingga berdampak pada produksi pertanian dan risiko kebakaran hutan atau lahan.

- Advertisement -