GATUTKACA WINISUDA

90 views
Brajadenta mundur dengan ikhlas, merelakan Gatutkaca yang dilantik jadi raja Pringgodani.
- Advertisement -

SEMENJAK Prabu Arimba raja Pringgodani tewas dibunuh Bima, sudah puluhan tahun lamanya tahta kerajaan dibiarkan kosong. Suksesi kepemimpinan tersendat-sendat. Di negeri yang rakyatnya berwujud raksasa dari RT sampai pejabat-pejabatnya itu dianggap belum ada yang layak jadi raja. Pringgodani bagaikan kapal tanpa nahkoda, tata pemerintahan benar-benar amburadul. Korupsi merajalela di mana-mana. Yang kecil korupsi beras raskin, yang gede main kawal proyek untuk Pemda.

Melihat kerapuhan negeri Pringgodani, banyak negara lain yang tergiur untuk mencaploknya. Selain Ngastina yang diotaki Duryudana, negeri Tunggarana di bawah pimpinan Prabu Kalapustaka berminat pula. Justru negara terakhir inilah yang paling berambisi. Bumi Pringgodani memang subur, produk cantel yang menjadi makanan pokok rakyat, sangat berlimpah ruah. Apalagi sumber minyak bumi, sampai 100 generasi pun tak akan habis!

“Kalau bumi Pringgodani bisa berintegrasi ke Tunggara­na, rakyat kita pasti akan makmur, dan GNP-nya naik. Kau Tumenggung Dendapati, nanti juga bisa saya karbit jadi patih, tidak jadi tumenggung seumur-umur…!” ujar Prabu  Kalapustaka dalam sidang selapanan bidang pertahanan untuk membicarakan strategi pencaplokan Pringgodani!

“Lho, patihnya selama ini kan saya. Mau dikemanakan saya, Sinuwun ?” Patih Sumberkaton protes, karena merasa jabatannya terancam.

“Usiamu kan sudah di atas 60 tahun, masuk MPP dong! Kasih kesempatan kepada generasi muda…!”

Bila diteruskan, situasi persidangan bisa memanas. Pra­bu Kalapustaka tak mau sampai terjadi begitu. Maka soal suksesi kepatihan Tunggarana distop, dan perbincangan kembali difokuskan pada soal rencana pencaplokan Pring­godani. Dua jam kemudian keputusan sidang diperoleh bahwa penyerangan ke Pringgodani dilangsungkan minggu-minggu ini dengan komandan Patih Sumberkaton yang biasa naik bis Sumber Alam.

Sementara Patih Sumberkaton mempersiapkan proyek agresinya, soal kevacuman di Kerajaan Pringgodani siang itu juga sedang jadi pembicaraan hangat antara Harjuna kesatria Madukara dengan Begawan Abiyasa di pertapaan Wukiretawu. Sambil minum bir dan makan pisang molen, kakek dan cucu itu mempersoalkan segala kemungkinan suksesi di Pringgodani.

- Advertisement -