Program Pemanenan Air Hujan Jadi Harapan Baru bagi Warga Sigi Terdampak Gempa

15 views
- Advertisement -

SIGI – Bencana gempa dan likuifaksi telah membuat Dusun Tiga, Desa Rogo, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, yang dulunya merupakan desa yang makmur kini berubah 360 derajat.

Dulunya, desa tersebut dihimpit pegunungan dengan sumber mata air yang melimpah. Warganya juga ramah dengan profesi yang kebanyakan merupakan petani kelapa dan padi.

Namun kini keadaan berubah pasca tujuh bulan dilanda gempa, dan warga masih banyak yang bergantung pada tenda-tenda yang terbuat dari terpal, dan mengalami krisis airgem pa karena memutus aliran mata air di dusun tersebut. Kini yang tersisa hanya air keruh bercampur tanah.

“Di sini adanya air (keruh) itu bang,” terang salah satu warga, sambil menunjukan keran toilet darurat di tengah pemukiman warga, Jumat (3/5/2019), dilansir laman dompetdhuafa.org.

Sambil menyusuri sudut-sudut pemukiman warga, Ahmad bercerita mengenai kondisi warganya pasca bencana terjadi.

Menurutnya,  banyak warganya yang sakit lantaran mengonsumsi air tersebut. Fase awal pasca gempa menjadi masa-masa tersulit bagi warga Dusun Tiga. Satu per satu warganya jatuh sakit. Masalah pencernaan menjadi yang banyak dikeluhkan warga. Bahkan sampai ada warga yang meninggal karenanya.

Namun kini, warga mulai mendapat harapan baru untuk kembali membangun kehidupannya.

Harapan tersebut terbangun kembali setelah Dompet Dhuafa menginisiasi progam Water for Life: Pemanenan Air Hujan (PAH) di Dusun Tiga dan dusun-dusun lain yang bernasib sama.

Diberitakan sebelumnya progam PAH adalah sebuah instalasi alat filteriasi air bersih. Ketika hujan datang maka alat PAH akan mengumpulkan air untuk setelahnya disaring dengan lima tahap filterisasi.

Namun ketika tidak ada hujan, warga juga dapat menggunakan air gunung untuk disaring. Wilayah seperti Desa Rogo, di Kabaupaten Sigi, kini tidak lagi harus mengkonsumsi air keruh.

- Advertisement -