KARTOMARMO BOYONG

47 views
Betari Durga terheran-heran, kenapa Kartomarmo sok niru Prabu Dewasrani, sowan ke Pasetran Gandamayit.
- Advertisement -

BENTUK phisik dan anatomi Kartomarmo sangat menyalahi rumus, jika tak mau  disebut dungu dan di luar akal sehat. Bayangkan,  sebagai wayang berhidung bentulan, matanya malah kedhelen bukan thelengan. Mengapa dilukiskan macam demikian,  nggak tahulah! Yang jelas dengan tipikal seperti itu Kartomarmo jadi tampang kriminal habis. Ndilalah kersaning Allah, oleh  Prabu Duryudana dia malah dipercaya menjadi bendahara kraton. Karenanya klop benar, tiada hari tanpa ngobyek, main anggaran, main proyek. Berkat “keahliannya” tersebut, sekarang rumahnya di kesatriyan Tirtatinalang bagaikan istana. Saking kayanya, barisan Kurawa menyebut dirinya: Kartomakmur.

“Tuh, perutnya sampai menjorok ke depan, saking gemuknya, kayak Wakil Ketua DPR saja.” Ledek Durmagati.

“Untungnya Kartomakmur tak suka bermulut nyinyir.” Tambah Aswatama.

Kebetulan Prabu Duryudana dewasa ini tengah membangun proyek wantilan, yakni kandang gajah Antisura. Anggarannya Rp 15 milyar, dan telah diresmikan minggu lalu. Tapi anehnya, setelah kandang nampak elit dan mewah, gajah Antisura justru tak mau menempati. Setiap digiring masuk selalu berontak. Sudah banyak  prajurit negeri Ngastina tewas terinjak, karena terlalu berani menggiring gajah masuk ke dalam wantilan baru. Pawang gajah se- Kabupaten Lampung telah dikerahkan, masih juga gagal mengendalikan.

“Bapa Pandita Durna, kenapa gerangan, gajah Antisura kok ngambek? Padahal anggaran bikin wantilan sudah terlanjur high cost.” Keluh Prabu Duryudana dalam rapat terbatas di Istana Gajahoya.

“Aduh anak prabu, apa itu high cost? Saya nggak paham, apa sejenis dengan sega hik (nasi kucing) Solo itu ya?” jawab Durna tanpa tedeng aling-aling.

Prabu Duryudana lalu memerintahkan paranormal agung Ngastina tersebut untuk maneges kersaning jawata (mencari tahu maksud dewa), apa gerangan yang terjadi. Malam harinya Pendita Durna di ruang bertapanya ditemui Bethara Bayu. Dengan pakai jubah kahyangan, dewa angin itu memberikan bisikan bahwa ngambeknya gajah Antisura lantaran tahu anggaran proyek wantilan di-“mark up” gas pol. Sebagai golongan hewan yang anti korupsi, Antisura lalu unjuk rasa menurut cara gajah.

- Advertisement -