Puasa Anak Kampung (1)

47 views
Bermain long bumbung sangat mengasyikkan, itung-itung bangunkan orang sahur.
- Advertisement -

SUDAH seminggu kita menjalankan ibadah puasa Romadon 1440 H. Kemakmuran mesjid semakin terasa, sebab mesjid menjadi full oleh orang salat tarawih. Meski itu biasaanya hanya sampai 10 hari puasa. Tapi bagi penulis, puasa di kampung terasa lebih indah, ketimbang puasa di kota besar sebagaimana Jakarta. Maklumlah, tahun 1965-an penulis masih anak-anak, sementara sekarang sudah orangtua berusia oversek (lebih dari 50 tahun). Dulu apa-apa tinggal minta orangtua, sementara sekarang gantian dimintai ini itu oleh anak-anak kita. Hukum karma!

Aku mengenal yang namanya puasa baru ketika umur 6 tahunan. Saat umur 5 tahunan, saya hanya tahu bapak saya dan segenap anggota keluarga siap di meja makan. Begitu terdengar suara kentongan dari langgar Siwa Dono, bapak pun minum dan makan kolak singkong, yang di Purworejo selatan disebutnya kluwa. Setelah salat magrib barulah bapak makan. Ternyata itu yang disebut “buka” alias membatalkan puasa.

Sebagaimana lazimnya anak kecil, saat bapak makan aku suka mengganggu, minta ini itu. Bapak rupanya terganggu, dan saya pun ditempang (tendang) sampai terjatuh. Tangisku pun pecah, lalu ditolong oleh nenek. “Oo, Sutik gendeng, karo anake kok tegel (sama anak sendiri kok tega),” omel Mbah Juwog. Simbok kala itu goreng krecek, tapi keras dan alotnya minta ampun. Di mulut kecilku, krecek goreng itu seakan mengajak petak umpet, digigit sini lari ke sana, begitu seterusnya.

Umur 7 tahun saat aku sudah masuk SR (Sekolah Rakyat), baru tahu makna puasa. Ternyata itu hukumnya wajib bagi orang Islam. Tapi aku belum ikut menjalaninya. Cuma di kala bapak dan simbok berbuka, saya suka nggangguin, minta makan. Nanti saat sahur, bangun juga ikut makan. Di kampung kami, pukul 02.00 pagi sudah makan sahur. Bapak sepulang tadarusan di rumah Pak Kaum (modin), pukul 23.00 sudah memerintahkan simbok untuk masak di dapur.

- Advertisement -