Pemilu Filipina: Cengkeraman Duterte Menguat

239 views
Koalisi Presiden petahana Rodriges Duterte memenangi pemilu sela sehingga melicinkan jalan baginya mengubah konstitusi dan menghidupkan lagi hukuman mati.(foto; CNN Indonesia)
- Advertisement -

PEMILU yang digelar di Filipina, Senin (13/5) lalu bakal menguatkan cengkeraman Presiden petahana Rodrigo Duterte di majelis tingggi (Senat), hingga memuluskan niatnya mengubah konstitusi dan mengenakan lagi hukuman mati.

Lembaga pemantau pemilu Filipina, PPCRV melaporkan, berdasarkan penghitungan 94 persen suara, mitra koalisi Duterte diprediksi bakal memenangi 9 dari 24 kursi majelis tinggi (Senat) yang  diperebutkan.

Pemilu sela tersebut diikuti sekitar 62 pemilik hak suara untuk memilih 24 kursi Senat dan 297 kursi DPR, sementara 43.000 kandidat memperebukan 18.000 jabatan lokal, seperti walikota.

Jubir Komisi Pemilu Filipina James Jimenes menyebutkan, secara umum, Pemilu berlangsung sukses, tidak ada indikasi kekerasan yang signifikan dan tidak terjadi sengketa terkait hasil perolehan suara, walau ada laporan terjadinya praktek politik uang.

Kepala Kepolisian Filipina Jenderal Polisi Oscar Albayalde menyebutkan, berdasarkan laporan yang ia terima dari “kiri-kanan”, telah terjadi insiden juala-beli suara secara besar-besaran.

Sebanyak 302 petugas Pemilu ditangkap bersama  amplop, uang tunai dan contoh surat suara yang diperjualbelikan. Mereka menawarkan mulai dari 300 hingga 3.000 peso (sekitar Rp225 ribu  peso hingga Rp2, 25 juta ) untuk memberikan suara bagi kandidat mereka.

Seorang kandidat wali kota juga ditangkap di Manila pada Minggu, 12 Mei 2019, setelah mencoba melakukan intervensi menyusul ditangkapnya para pendukung di tempat “pembelian suara” namun mereka dibebaskan beberapa saat kemudian.

Pemungutan suara juga terhambat akibat tidak berfungsinya mesin penghitung suara. Mantan Wapres Jejomar Binay sempat terancam gagal mencolos karena salah satu mesin tidak berfungsi.
Kursi yang diperebutkan dalam majelis tinggi Senat Filipina menjadi salah satu sorotan besar pada pemilu kali ini karena menentukan kekuatan Duterte di parlemen.

Lebih Leluasa

Jika kubu Duterte berhasil meraup mayoritas kursi di Senat, ia akan lebih leluasa menjalankan rencana besarnya untuk mengubah konstitusi 1987 untuk kembali ke bentuk negara ferderal.

Filipina  melarang hukuman mati pada 1987, kemudian sempat diberlakukan kembali enam tahun kemudian,  dan  dilarang lagi pada 2006.

- Advertisement -