Selat Hormuz, Jalur Minyak Dunia

87 views
Eskalasi perseteruan AS dan Iran di Selat Hormuz bisa melonjakkan harga minyak global
- Advertisement -

ANCAMAN Iran untuk menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur penting angkutan minyak dunia, tidak saja bakal mengganggu negara produsen dan pengimpor, tetapi bisa memicu krisis ekonomi global akibat naiknya harga emas hitam itu.

Iran kembali mengancam akan menutup Selat Hormus yang berlokasi antara Teluk Persia dan Teluk Oman dengan  lebar 51 Km akibat keputusan Presiden AS Donald Trump mencabut keringanan sanksi bagi negara-negara pembeli minyak dari Iran (14/5).

Situasi memanas akibat terjadinya penyerangan terhadap dua kapal tanker pengangkut minyak milik Arab Saudi dan masing-masing satu  milik Norwegia dan UEA yang melintas di selat sempit tersebut beberapa hari lalu.

Eskalasi permusuhan sebenarnya mulai muncul lagi pasca penarikan diri  AS dari kesepakatan nuklir Iran bersama negara penandatanganan lainnya yakni China, Jerman, Inggeris, Perancis dan Rusia (6 plus 1) pada 8 Mei, 2018  atau tepatnya setahun lalu.

Kesepakatan itu mengikat Iran untuk menghentikan program nuklirnya dan sebagai imbalannya, keenam negara tersebut mencabut sanksi embargo dan bisa berinvestasi termasuk di sektor perbankan di Iran.

Perkembangan terakhir, AS selain meneruskan sanksi ekspor Iran, juga mencabut dispensasi sanksi bagi negara yang masih mengimpor minyak dan berinvestasi di Iran setelah Iran menyebut tentara AS di luar negeri sebagai teroris untuk merespons julukan sama terhadap pasukan Garda Revolusi Iran.

Mengenai rencana penutupan Selat Hormuz, Panglima AL Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Jenderal Alireza Tangsiri  mengatakan, hal itu akan dilakukan jika negaranya  dilarang menggunakannya.

“Selat Hormuz adalah jalur pelayaran, hingga jika kami dilarang menggunakannya kami akan tutup, “ujarnya pada kantor berita Faz (14/5).

Sebaliknya, dengan dalih untuk melindungi keselamatan pasukannya yang ditempatkan di sejumlah negara di Timur Tengah, AS pun mengirimkan gugus tugas armadanya termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln ke Teluk Persia (8/5).

- Advertisement -