Mutiara Islam di Negeri Kasino

515 views
- Advertisement -

“Do not judge a book by its cover”. Begitulah kata orang bule. Kita akan naif jika melihat sesuatu hanya dari bungkusnya. Dalam kaidah Ushul-fiqh juga ada redaksi yang mirip, “al-Ibratu bil Jawahir, la bil Mazahir (yang penting subtansi, bukan simbol/ bungkusnya)”. Itulah kenapa saya perlu sampaikan sisi lain yang mungkin tidak banyak diketahui oleh khalayak, sebelum mereka datang, melihat dengan mata kepala sendiri.

Macau yang terkenal sebagi pusat judi, atau Las Vegasnya Asia, cenderung terdengar negatif. Atau mungkin ada yang apriori dengan negeri ini. Saya bukan Goodwill Ambassadornya Macau. Saya hanya ingin berbagi cerita, semoga kita dapat mengambil mana yang baik, tinggalkan buruknya. Seperti perintah Tuhan kepada Musa a.s yang diabadikan dalam kitab suci-Nya, “perintahkan kepada kaum mu (wahai Musa) untuk mengambil yang baik (nya saja)”.

Inilah cerita tentang nilai-nilai baik yang ada di sini. Ketika saya keluar dari apartemen tempat saya tinggal, saya mendapatkan banyak nilai-nilai kebaikan yang menurut saya sangat Islami. Atau sebut saja kebaikan universal. Beberapa hal yang belum banyak dijumpai secara masif di tanah air. Bayangkan, setiap tangga/ koridor tertulis, agar tidak “nyampah” (no littering). Dan sepanjang tangga itu memang tidak ada sampah.

Sampai di jalan raya, saya lebih kagum lagi, karena mereka akan memberi prioritas pada pejalan kaki. Para pengguna jalan saling menghormati satu sama lain. Jika ada lampu merah (traffic light) mereka tunggu lampu sampai hijau menyala, tidak ada yang ‘nyelonong’. Jika di perempatan tidak ada lampu merahnya, maka siapapun boleh lewat garis zebra cross tanpa ragu. Mobil, motor dan kendaraan jenis apapun akan mengalah mendahulukan Anda dan penyebrang lainnya. Tidak ada yang berani “nerobos” dengan alasan buru-buru. Tidak ada anak di bawah umur yang berkendara. Tidak ada yang ugal-ugalan. Tidak ada polusi suara.

- Advertisement -