PM May Lengser Secara Bermartabat

40 views
PM Inggeris Theresa May akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya (24/5) setelah gagal menyatukan parlemen termasuk kalangan Partai Konservatif tentang proses Brexit dari UE (foto:Reuters)
- Advertisement -

BERTAHAN dari serangan parlemen termasuk dari kalangan partainya sendiri terkait kebijakan Brexit dari Uni Eropa (UE), PM Ingeris Theresa May akhirnya memutuskan lengser.

May yang mengumumkan pengunduran dirinya sebagai ketua Partai Konservatif, Jumat (24/5) masih akan menjabat sampai terpilihnya ketua baru pada 7 Juni, baru kemudian mundur sebagai PM Inggeris setelah penggantinya ditetapkan dalam beberapa pekan ke depan.

Dengan suara tersendat-sendat menahan keharuan, May menyatakan, di dalam demokrasi, jika seorang telah memberikan pilihan pada rakyat, ia harus bertanggungjawab melaksanakannya.

“Saya sudah berupaya semaksimal mungkin melakukan yang terbaik, dan ke depannya, PM barulah yang akan melanjutkan, “ kata May dalam pidato pengunduran dirinya.

May gagal menyatukan angggota fraksi Partai Konservatif di parlemen yang berseberangan dengan kebijakan terkait Brexit.

Sebagian anggota menginginkan hard Brexit atau putus hubungan total dengan UE, sedangkan kubu lainnya menginginkan tetap hubungan baik dengan UE.

Namun jalan tengah yang diambil May ternyata tidak bisa memuaskan kedua kubu yang bersilang pendapat di partainya, sedangkan upayanya meminta dukungan oposisi, Partai Buruh, agaknya terlambat walau pandangan mereka sebenarnya tidak berbeda jauh.

Akhirnya, usulan yang sudah keeempat kalinya disampaikan oleh May kepada parlemen terkait RUU Kesepakatan Penarikan (dari UE-red) atau Withdrawal Agreement Bill) kandas, bahkan Ketua Majelis Rendah dari Fraksi Partai Konservatif, Andrea Leadsom mundur karena tidak setuju dengan langkah May.

Leadsom yang digadang-gadang untuk menggantikan May, memuji sikap May yang disebutnya bermartabat, menunjukkan komitmen yang tinggi serta melakukan yang terbaik pada bangsa dan negara.

Inggeris yang sudah hengkang dari UE 29 Maret 2019 masih harus melakukan kewajibannya mengikuti pemilu parlemen Eropa karena proses Brexit yang berlarut-larut sehingga tenggat keanggotaan dalam UE masih diperpanjang sampai Oktober nanti.

Elite kita mungkin bisa belajar dari Inggeris, bagaimana gigih mereka memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara sesuai keyakinannya, bukan demi kekuasaan diri atau golongannya.

- Advertisement -