“PDKT” Dua Pemimpin Negara Beruang

166 views
- Advertisement -

Selebihnya, kesepakatan di antara kedua negara itu adalah penguatan kerja sama pertahanan, guna mengantisipasi agresi Jepang di kemudian hari.

Mulai Memburuk
Hubungan Soviet – RRC mulai memburuk di awal 1950-an, lalu pertentangan antara keduanya semakin tajam pada tahun ’63-an dan memuncak dengan pecahnya perang perbatasan terkait sengketa atas P. Damansky atau Zhenbao dalam bahasa China, pada 1969.

Sebelumnya, pada awal 1960-an, Ketua Mao melontarkan tudingan langsung pada Soviet yang menurut dia “telah lama bersekutu diam-diam dengan AS untuk melawan revolusi rakyat China”.

“Putus kongsi” antara kedua “beruang” mulai terasa di era Perang Dingin sekitar 1956, namun Partai Komunis Tiongkok baru secara terbuka pada akhir dekade ’60-an menyebut Soviet sebagai “revisionist” yang mencla-mencle atau tidak tegas terhadap Barat. Konfrontasi berlanjut hingga akhir dekade 1980-an, ditandai runtuhnya Uni Soviet yang juga berakibat perpecahan gerakan komunis internasional.

Dari sisi ideologi, beberapa filsuf politik seperti seperti Martin Cohen dari Inggeris melihat upaya Maoisme untuk menggabungkan Konfusianisme dan Sosialisme.

Maoisme dianggap sebagai adaptasi Marxisme-Leninisme-Stalinisme yang memiliki hampir semua fitur sama seperti Stalinisme namun berbeda dengan Marxisme-Leninisme di era lebih awal yang menganggap kaum proletar di perkotaan sebagai penggerak revolusi.

Sebaliknya, Mao justru memusatkan perhatian pada kaum buruh-tani di pedesaan sebagai kekuatan revolusioner utama dipimpin oleh kaum proletariat dan pengawalnya, Partai Komunis Tiongkok.

Kini kedua beruang mulai saling merapat lagi, walau terlalu dini untuk memprediksi seberapa jauh dampaknya mampu mengubah peta geopolitik global yang saat in terpolarisasi pada tiga raksasa: AS, Rusia dan China. (Rossiyskaya Gazeta/berbagai sumber/NS)

- Advertisement -