Inggeris: Alot, Opsi Brexit

26 views
Para calon kandidat pengganti PM Inggeris Theresa May gamang antara pilihan Brexit dari UE dengan atau tanpa kesepakatan.
- Advertisement -

PARA calon pengganti PM Theresa May yang mengundurkan diri sekitar dua pekan lalu (24/5) harus menentukan sikapnya, apakah negara itu harus keluar dari Uni Eropa (UE) dengan atau tanpa kesepakatan.

Bagaikan buah si malakama, bagi Inggeris, pilihan Brexit tanpa atau dengan kesepakatan sama-sama berisiko. Jika tanpa kesepatan, Inggeris bisa mengambil kebijakan yang kompetitif ketimbang UE, sebaliknya, dengan kesepakatan, ikut menikmati kebijakan UE yang bermanfaat.

Dalam referendum terkait Brexit yang digelar Britania Raya pada 23 Juni 2016, sebanyak 51,9 persen suara mendukung Brexit dari UE dan 48,1 persen suara menghendaki tetap.

Hasil referendum tersebut di sisi lain juga menciptakan polarisasi di negara-negara konstituen Britania Raya, dimana Inggeris dan Wales memilih keluar, sebaliknya Skotlandia dan Irlandia Utara memilih bertahan.

Kini, para kandidat pimpinan Partai Konservatif pengganti May yang otomatis akan menjadi perdana menteri sudah menegaskan bahwa Brexit akan dilakukan pada akhir Oktober walau tanpa kesepakatan.
Sebaliknya, kubu oposisi dipimpin Partai Buruh sedang menggalang kekuatan di parlemen untuk menggolkan undang-undang yang memuat penolakan bagi Inggeris untuk Brexit atau hengkang dari UE tanpa kesepakatan.

Partai Buruh bersama Partai Nasional Skotlandia dan Partai Liberal Demokrat, juga sejumlah anggota parlemen dari Partai Konservatif yang membelot, ikut kubu yang menghendaki Brexit dengan kesepakatan, akan mengagendakan pengajuan RUU tersebut pada 25 Juni.

Sementara Presiden Komisi Eropa Jean Claude-Juncker yang jabatannya akan berakhir 31 Oktober menegaskan, UE sudah menganggap isu Brexit sudah selesai sehingga pihaknya tidak akan membuka lagi ruang untuk bernegosiasi.

“Siapa pun yang akan menjadi PM Inggeris harus menghormatinya. Tidak ada negosiasi lagi. Ini traktat antara Inggris dan UE, bukan antara Juncker dan Theresa May, “ ujarnya.

- Advertisement -