Selamat Datang Wajah Baru!

29 views
Pemudik kembali ke Jakarta lewat stasiun KA Senen. Banyak di antara mereka merupakan wajah baru.
- Advertisement -

TELAH menjadi kebiasaan, manakala arus balik ke Ibukota telah selesai, artinya warga kota yang pulang kampung telah kembali ke Jakarta, dipastikan bermunculan “wajah baru”. Mereka diajak untuk ikut mengadu nasib ke ibukota negara. Dulu mereka selalu cemas terkena razia Operasi Biduk (Bina Penduduk). Tapi sekarang tak perlu lagi, sebab Gubernur DKI yang santun dan penuh keberpihakan  ini mempersilakan warga daerah mencari rezeki di Jakarta. Itu semua hak warga negara. Asal melapor ke RT-RW, selesai!

Jaman pemerintahan Gubernur Ali Sadikin (1966-1977), kota Jakarta dinyatakan sebagai kota tertutup. Artinya, warga dari daerah yang tidak punya pekerjaan dan keahlian, dilarang masuk ibukota negara. Kalau memaksakan diri masuk, harus pakai uang jaminan. Nanti jika gagal mengadu nasib di Jakarta, dengan uang jaminan itulah si “wajah baru” dipulangkan ke asal daerahnya.

Maksud Bang Ali adalah, untuk meminimalisir kejahatan di ibukota negara. Sebab berdasarkan pengalaman, “wajah baru” yang gagal cari peruntungan di Jakarta kemudian terjerumus jadi penjahat, dari mencuri, tukang palak sampai perampok. Ini kan sangat mengganggu ketenangan masyarakat dan tak urung bikin repot negara. Jaman Orde Baru, Pangkokamtib Sudomo memberantasnya dengan Petrus alias penembak misterius. Residivis yang terus mengganggu keamanan Ibukota, diselesaikan lewat peluru secara diam-diam.

Jaman Orde Baru memang belum ada Komnas HAM, adanya baru ham alias daging babi. Tapi gubernur-gubernur penerus Ali Sadikin mulai melonggarkannya. Orang daerah boleh masuk setelah ada jaminan pekerjaan. Sebab kalau dipikir-pikir, para pejabat di ibukota negara itu awalnya semua “wajah baru”. Jangankan Mas Karyo, Mang Dudung orang biasa; Gubernur Anies Baswedan, Mendagri Tjahjo Kumolo dan Presiden Jokowi, awalnya juga “wajah baru” di Jakarta.

- Advertisement -