AS dan Iran Emoh Perang

36 views
Di tengah saling ancam dan persiapan kekuatan militer masing-masing, AS dan Iran ternyata sama-sama tidak menginginkan perang. Damai lebih baik!
- Advertisement -

DI BALIK pernyataan saling ancam antara kedua petinggi negara dan dilakukannya penyiapan kekuatan militer masing-masing, baik Amerika Serikat mau pun Iran ternyata tidak berniat memulai peperangan.

Komando Operasi Militer AS di Timur Tengah dalam pernyataannya, Kamis (13/6) menyebutkan AS akan mempertahankan kepentingannya di kawasan Timur Tengah, tetapi berperang melawan Iran bukanlah opsi strategis AS.

Pernyataan itu disampaikan setelah terjadi serangan terhadap kapal tanker MS Front Altair yang dioperasikan oleh Uni Arab Emirat dan Kokuka Courageous yang dioperasikan Jepang saat melewati Selat Hormus, Kamis (13/6) lalu.

Sebelumnya terjadi penyerangan terhadap dua kapal tanker milik Arab Saudi dan masing-masing milik UEA dan Norwegia di Teluk Oman dan lepas pantai UEA (13/6). Sejauh ini belum bisa dipastikan pelaku penyerangan tersebut.

Komando Timur Tengah AS menuding Iran di balik penyerangan tanker-tanker tersebut, sebaliknya Iran serta-merta juga membantahnya.

Ketegangan di Teluk Parsi terjadi pasca penarikan diri AS dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) Mei lalu yang ditandatangani bersama Inggeris, Perancis, Jerman, China dan Rusia pada 2015.

Penarikan diri AS dari JCPOA kemudian disusul dengan pengenaan kembali sanksi embargo ekspor minyak Iran yang memperberat ekonomi negara itu sehingga mengancam tindakan balasan dengan rencana menutup Selat Hormus.

AS pun mengirimkan gugus tugas armada tempur termasuk kapal induk pengangkut puluhan pesawat tempur, kapal pendarat amfibi, skuadron pembom strategis B-52 dan pasukan tambahan untuk ditempatkan di sejumlah negara mitranya di Timur Tengah.

Presiden Iran Hassan Rouhani dalam pernyataannya, Jumat (14/6) juga menyebutkan negaranya tidak akan pernah memulai perang, kecuali membalas keras setiap agresi.

Jika, AS dan Iran yang bersteru sama-sama menyatakan tidak berniat perang karena menyadari hal itu hanya akan menciptakan malapetaka, sebaiknya dilanjutkan menuju meja perundingan. (AFP/Reuters/ns)

- Advertisement -