Venezuela, Terpuruk Semakin Dalam

5.238 views
Hyperinflasi di Venezuela sejak Agustus 2018, membuat mata nilai uang bolivar merosot ratusan kali lipat. (foto:BBC)
- Advertisement -

REZIM petahana Presiden Nikaragua, Nicolas Maduro masih tetap bertahan di tengah hiperinflasi yang semakin menggila, mencapai 1,7 juta persen dalam kurun waktu kurang dari setahun sejak Agustus 2018.

Bank Sentral Venezuela, menurut harian Inggeris the Guardian (14/6) untuk kedua kalinya merilis uang baru kurang dari setahun setelah sebelumnya pada 2018 menghapus lima angka nol pada mata uang bolivar.

Sebagai ilustrasi, lembaran mata uang tertinggi yang baru dengan nilai nominal 50.000 bolivar setara delapan dollar AS (sekitar Rp116.000), lebih tinggi dari upah minimum di negara itu yakni 40.000 bolivar.

Makin sulitnya kehidupan membuat warga yang frustrasi berbondong- bondong hengkang ke negara tetangga, Kolombia begitu Presiden Maduro membuka sebagian pintu perbatasan sejak Minggu lalu (9/6).

Sekitar 30.000 pelintas batas dari kota San Antonio dan Tachira serta kota-kota lain di sekitar perbatasan menyeberangi Jembatan Internasional Simon Bolivar untuk mencari makanan dan obat-obatan ke wilayah Cucuta di Kolombia.

PBB juga membenarkan, sekitar 3,3 juta penduduk Venezuela yang kekurangan gizi, obat-obatan dan pasokan listrik melarikan diri dari krisis ekonomi di negara produsen minyak itu sejak 2016.

“Eksodus penduduk yang keluar dari Venezuela sangat mengejutkan,” kata Badan Pengungsi PBB (UNHCR) dan Organisasi Migrasi Internasional (IOM) dalam pernyataan bersama, Jumat pekan lalu (7/6).
Kemlu Venezuela dilaporkan menutup kantor konsulatnya di Vancouver, Toronto dan Montreal, Kanada dan hanya menyisakan kedubesnya di Otttawa sebagai aksi balasan atas pengakuan Kanada tehadap pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido.

Sejauh ini, sudah 50 negara mengakui kepemimpinan Guaido, sebaliknya Rusia dan China termasuk segelintir negara yang mendukung Maduro.

Presiden Rusia Vladimir Putin, selain mendukung pemerintah petahana Venezuela pimpinan Presiden Maduro, juga mengecam pihak Barat, bahkan menganggap para pemimpinnya gila, karena mendukung kubu oposisi pimpinan Guaido.

Guaido menyatakan dirinya sebagai presiden yang didukung mayoritas rakyat Venezuela pada Januari lalu dan mengklaim, terpilihnya kembali Maduro tahun lalu tidak sah.

Perekonomian Venezuela sudah parah sejak rezim Presiden Hugo Chavez (1999 sampai meninggal pada 2013) akibat anjloknya harga minyak yang menjadi 95 persen pemasok devisa dan juga salah urus.
Bayangkan saja, harga seekor ayam bisa sampai 2,6 juta Bolivar atau makan di resto harus merogoh kocek milyaran bolivar.
Di ibukota, Caracas dan sejumlah kota besar, penduduk mengaisi sampah untuk mencari sisa-sisa makanan merupakan pemandangan biasa, sementara jutaan warganya hengkang ke luar negeri.

- Advertisement -