AS dan Iran (Sementara) Terhindar dari Perang

16 views
Eskalasi konflik di Timur Tengah antara AS dan Iran semakin memanas. Dunia cemas, hal itu berkembang menjadi konflik militer.
- Advertisement -

ALLAH masih menyayangi umatnya dengan mencegah sikap angkara murka Presiden AS Donald Trump yang mendadak membatalkan rencana penyerangan ke Iran, Kamis (20/6) beberapa jam sebelum dilancarkan.

Trump kali ini agaknya mau mendengar bisikan Kongres AS untuk membatalkan serangan, kemungkinan dengan alasan, jika itu dipaksakan, bakal menyulut eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah dan menyeret negara-negara lainnya.

Kalangan penentu kebijakan di AS sendiri terlibat pro-kontra terhadap rencana memerangi Iran. Yang ngotot dan setuju antara lain Menlu Mike Pompeo, Penasehat Keamanan Nasional John Bolton dan Direktur Dinas Rahasia AS (CIA) Gina Haspel.

Sebaliknya, Kongres AS yang juga dimintai sikapnya terkait isu Iran, mendesak Trump agar ikut meredakan ketegangan dan lebih berhati-hati demi mengantisipasi berbagai reaksi dunia yang akan muncul.

Kemarahan Trump dipicu jatuhnya pesawat nirawak RQ-4 Global Hawk berharga 110 juta dollar AS (sekitar Rp1,5 triliun lebih) di dekat Selat Hormus akibat tembakan rudal Iran (20/6). Iran mengklaim, drone itu melanggar wilayahnya, sebaliknya AS berdalih, drone berada di zona internasional.

Ketegangan antara AS dan Iran memang sudah dimulai sejak penarikan diri sepihak AS dalam kesepakatan program nuklir Iran bersama Jerman, Perancis, Inggeris, China dan Rusia pada 2015 dibarengi sanksi embargo ekspor minyak Iran.

Sejak itu, ancaman saling serang dilontarkann kedua pihak. AS menganggap pasukan Garda Revolusi Iran sebagai kelompok teroris, sebaliknya, Iran juga menyatakan, pasukan AS yang ditempatkan di
Timur Tengah adalah kumpulan teroris.

Ketegangan semakin meningkat akibat terjadinya tiga insiden terpisah penembakan kapal tanker beberapa waktu lalu yang sejauh ini belum diketahui secara pasti pelakunya.

Insiden pertama, penyerangan terhadap dua kapal tanker milik Arab Saudi dan masing-masing satu milik UEA dan Norwegia di Teluk Oman dan lepas pantai UEA (13/6) dan insiden kedua terhadap tanker UEA dan Jepang saat melewati Selat Hormus (12/5).

- Advertisement -