Kasus Khashoggi, Pertaruhan Kredibilitas Saudi

17 views
- Advertisement -

Aparat Turki dikabarkan juga memiliki sejumlah bukti yang bisa digunakan untuk penyidikan selanjutnya, tetapi tidak diketahui, apakah mereka “ewuh-pakewuh” membeberkannya karena hubugan baik dengan Saudi.

Walau pelaku masih terus diburu, pemerintah Saudi agaknya sudah terkena sanksi sosial yang menyudutkan dan menurunkan kredibilitasnya dimata internasional dan juga terkena sanksi ekonomi.

“Siapa menabur angin, bakal menuai badai”. Pemerintah Saudi harus menelan risiko terkena sanksi dan kecaman internasional akibat dugaan keterlibatan aparatnya dalam pembantaian Khashoggi.

Dalih bahwa Khashoggi tewas akibat perkelahian di dalam gedung konsulat terbantahkan berdasarkan bukti-bukti lain, sedangkan perkiraan ia dimutilasi dan potongan jasadnya dikubur di suatu tempat di wilayah Turki semakin menguat.

Para tersangka akan diadili di dalam negeri, kemungkinan agar dalangnya tetap terselamatkan, dan hukuman hanya dikenakan terbatas pada eksekutor di lapangan.

Gelombang protes terhadap pembunuhan Khashoggi juga digelar oleh berbagai kalangan di depan gedung konsulat Arab Saudi di Istanbul dan oleh kelompok wartawan dan aktivis HAM di sejumlah negara.

Pemerintah Jerman mendesak Uni Eropa untuk menyatukan langkah pengenaan sanksi pembatalan kontrak penjualan senjata bernilai milyaran dollar AS terhadap Arab Saudi.

Sementara Perancis masih keberatan jika harus menyetop pengembangan pesawat tempur yang semula ditujukan untuk ekspor, termasuk ke Arab Saudi bernilai 13,8 milyar dollar (sekitar Rp213,9 triliun).

Presiden AS Donald Trump sejauh ini juga masih menolak pembatalan kontrak penjualan alutsista senilai 110 milyar dollar (sekitar Rp1.705 triliun), walau sikapnya bisa saja berubah jika ditekan oleh para pegiat HAM, dari kelompok parlemen, media dan masyarakat luas.

Siapapun yang memiliki nalar dan rasa prikemanusiaan, pasti berempati kepada Khashoggi dan berharap, minimal berdoa agar para pelaku termasuk aktor intelektualnya dihadapkan ke meja hijau.
(AP/AFP/Reuters/ns)

- Advertisement -