Dicari! Dewa untuk Pimpin KPK

94 views
Yenti Ganarsih, pakar Tindak Pidana Pencucian Uang (blouse putih) yang memimpin panitia seleksi pimpinan KPK akan menyaring 384 capim KPK, mengumumkan 10 nama terpilih pada 11 Juli dan kemudian menyerahkan pada Presiden Jokowi, September.
- Advertisement -

RASANYA tidak berlebihan jika muncul pameo, diperlukan sosok dewa, minimal setengah dewa untuk menjadi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mengingat beratnya tantangan yang bakal dihadapi.

Sejak dibuka 17 Juni lalu, hingga tenggat waktu penutupan pendaftaran capim KPK 2019 – 2023 pada 4 Juli lalu, tercatat 348 orang yang sudah mendaftar dan panitia seleksi (pansel calon Ketua KPK).

Pansel juga belum resmi merinci seluruh nama-nama dan profesi para calon ketua lembaga anti rasuah tersebut, kecuali disebutkan, dari kalangan internal KPK ada 13 orang yakni tiga dengan status komisioner dan 10 pegawai, selebihnya dari berbagai profesi di luar KPK.

Disebutkan ada sembilan perwira tinggi Polri yang masih berdinas aktif, tidak diketahui jumlah purnawirawannya, sedangkan dari TNI-AU satu orang masih berstatus dinas aktif.

Advokat adalah profesi terbanyak yang mencalonkan diri sebagai calon orang nomor satu di KPK (53 orang), disusul akademisi (tidak disebut jumlahnya), selebihnya dari berbagai profesi termasuk sembilan hakim.Pansel beranggotakan sembilan orang diimpin Jenti Ganarsih, selanjutnya akan menyodorkan 10 nama calon terseleksi pada Presiden Joko Widodo, 11 Juli nanti.

Tantangan Ketua KPK? Menurut Ketua PP Muhamadiyah Haedar Nashir, KPK harus dinakhodai oleh figur yang memiliki integritas, profesionalitas, kapasitas yang mumpuni, moralitas yang tinggi serta rekam jejak yang bersih.

Lebih dari itu, ujarnya, pimpinan KPK harus tidak goyah diintervensi atau hanya mementingkan atau membela kelompok atau tokoh tertentu.

Namun Haedar tidak setuju jika orang terjebak dengan latar belakang atau identifikasi capim KPK, apakah harus seorang jaksa, hakim, polisi, perempuan atau laki, termasuk juga afiliasi yang bersangkutan.

“Yang penting, pilih yang terbaik integritas, profesionalitas, moralitas, kapasitas dan rekam jejaknya “ tutur Haedar.

- Advertisement -