Perempuan, Masih “di Belakang”

24 views
25 tahun pasca pencanangan internasional tentang pemenuhan hak-hak perempuan (1994) sampai kini belum sepenuhnya terealisasi.
- Advertisement -

TEMPO doeloe, derajat perempuan Indonesia di dalam istiah bahasa Jawa dijuluki “konco wingking” atau mitra di belakang, sebatas urusan internal rumah tangga atau soal remeh-temeh.

Di era now, 25 tahun sejak dicanangkan dalam Kesepakatan Konferensi Kependudukan dan Pembangunan Int’l (ICPD) pada 1994 yang menjanjikan pemenuhan hak mereka atas akses pendidikan dan kesehatan, masih banyak yang belum terwujudkan.

Pada hari Kependudukan Dunia 2019, Jumat (12/7) pemerintah dan Badan Kependudukan Dunia (UNFPA) memfokuskan lagi tiga persoaan utama yakni kebutuhan kontrasepsi yang tidak terpenuhi (unmet need), kematian ibu melahirkan serta kekerasan atas kaum hawa itu.

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia pada 2017, tercatat lenih 32.000 ibu meninggal saat melahirkan dan satu diantara tiga perempuan mengalami kekerasan sepanjang hidupnya.

Ketertinggalan perempuan dalam pembangunan di Indonesia juga tercermin dari tingginya angka kematian ibu (AKI) yakni 305 untuk setiap 100.000 kelahiran hidup (data 2015).

Derita dialami sejak lahir, ABG sampai dewasa misalnya pilihan sekolah dan jodoh ditentukan orang tua, belum lagi jika suami memegang kendali keluarga atau urusan administrasi yang mempersyaratkan pendampingan keluarga laki-laki saat perempuan menjanda.

Sejumlah perempuan yang tidak beruntung, misalnya dari keluarga miskin di Singkawang, Kalimantan Barat, ditawarkan untuk dinikahkan pada warga negara Taiwan atau China daratan. Tidak semua beruntung, misalnya dapat suami penganggur, mengalami KDRT dan perlakuan buruk lainnya.

Selain tidak mengecap bangku sekolah atau “drop-out”, banyak pula kaum perempuan terutama di wilayah T3 (terdepan, terluar, tertinggal) yang harus bekerja kasar, misalnya menjadi tukang batu, pemulung bahkan “dijual” akibat himpitan kemiskinan ortu mereka.

Kemajuan yang menggembirakan, turunnya Angka Fertilitas Total (TFR) dari 2,85 (1994) menjadi 2,38 (2017) dan meningkatnya penggunaan kontrasepsi modern (CPR) dari 52,1 persen menjadi 57,2 persen).

- Advertisement -