PKL, Persoalan Tanpa Ujung Ibu Kota

29 views
Inkonsistensi Pemda ditambah dugaan adanya oknum yang "bermain" membuat penertiban PKL termasuk di Ps. Tanah Abang tidak pernah berhasil.
- Advertisement -

PERSOALAN pedagang kaki lima (PKL) di wilayah seolah-olah tidak ada habis-habisnya, bagaikan jamur di musim hujan, ditutup satu, muncul seribu, ditertibkan ini hari, besok datang lebih banyak lagi.

Di satu sisi, PKL merupakan katup pengaman ketenaga kerjaan, sekaligus juga berfungsi menggerakkan roda-roda ekonomi, mengingat pemerintah belum mampu menyediakan pekerjaan sepenuhnya.

Namun di sisi lain, kegiatan mereka mengokupasi trotoar, tidak jarang sampai bahu jalan, belum lagi sampah dan limbah yang berserakan serta kondisi semrawut dan rawan keamanan, juga mengganggu hak para pengguna jalan.

Inkonsistensi aparat penegak hukum, bahkan kadang-kadang ada yang malah ikut bermain, menjual lapak-lapak liar di lokasi yang bukan peruntukannya atau kongkalingkong dengan Satpol PP membocorkan jadwal penertiban juga memperparah penananannya.

Contohnya di ruas jalan Rawajati Timur sampai ke mulut jalan TMP Pahlawan, Kalibata di dekat Stasiun komuter Duren Kalibata, Jakarta Selatan, penulis menyaksikan, paling tidak, sudah lebih dua tahun penertiban PKL begitu-begitu saja.

Saat petugas Satpol PKL berjaga-jaga, biasanya sore hari, ruas jalan tersebut bebas dari pedagang yang mengintip mereka sambil mangkal di pojok-pojok gang, menunggu para petugas hengkang.

Seluruh area trotoar langsung diokupasi para PKL begitu petugas meninggalkan lokasi. Yang dijajakan aneka kuliner seperti nasgor, ketoprak, bubur ayam, sate, mie ayam serta goreng-gorengan.

Belum terlihat inisiatif pihak kelurahan (Rawajati) atau Kec. Pancoran mencarikan solusinya, misalnya dengan menyediakan lapak bagi PKL, sekalian mengawasi dan menysupervisi kebersihan lingkungan dan juga makanan dagangan yang dijajakan.

Sementara hasil polling diikuti 516 responden di Jabodetabek yang digelar Kompas 24-25 Juni (Kompas 14/7) menyebutkan, 42,6 persen responden mengaku terganggu kehadiran PKL yang membuat jalanan macet, 35,3 persen mengeluhkan badan jalan yang semakin sempit, 7,4 persen merusak pemandangan dan 5,6 persen tidak menjawab.

- Advertisement -