RAMA TOMBOK

96 views
- Advertisement -

“Oh kangmas Ramawijaya, akhirnya kita bertemu lagi,” sambut Dewi Sinta ketika bertemu kembali dengan suami. Dia berharap suaminya segera merangkul dan mendekapnya dengan mesra, ternyata tidak. Diajak bersalaman pun sambutan raja Pancawati ini terasa hambar.

“Benarkah iklan ini?” Prabu Rama menunjukkan gambar di HP-nya, tentang baliho Ojo Mrono.

“Itu iklan hoax Kangmas. Cek saja pada Mbak Trijatha….” jawab Dewi Sinta sambil menuding Dewi Trijatha, yang selama ini mengawal dan menemani di taman Argasoka.

Dewi Trijatha adalah putri Gunawan Wibisono. Sebelum diusir sang kakak Prabu Dasamuka dan kemudian bergabung dengan Prabu Rama, Gunawan Wibisono sempat menugaskan Trijatha untuk mengawal Dewi Sinta. Maksudnya, supaya dia pandai-pandai merayu Pakde Dasamuka, agar jangan sampai main kasar apa lagi memperkosa Dewi Sinta. Walhasil Prabu Dasamuka tak pernah berhasil menumpahkan gairah nafsunya pada Dewi Sinta yang diculiknya dulu.

“Dijamin Dewi Sinta masih utuh buntelan plastik, Oom.” Garansi Dewi Trijatha.

“Ah yang bener?” jawab Prabu Rama agak dongkol, wong statusnya raja definitip kok  cuma dioom-oom.

Karena sudah lama tak ketemu mestinya Dewi Sinta diajak rendezvous ke hotel Ibis atau Ambarukma Palace Hotel. Tapi taksi online itu malah diarahkan ke Prambanan, menuju tempat pembakaran mayat. Prabu Rama sengaja ingin mengetes kesucian istrinya dengan cara dibakar. Bila Sinta masih suci hama belum pernah disentuh Dasamuka, dia akan selamat. Tapi jika sudah berhasil diajak kempoi oleh raja Ngalengka, pastilah binasa menjadi arang.

“Jangan berbuat konyol Sinuwun Prabu Rama. APBN Pancawati defisit karena terjadi mobilisasi anggaran untuk biaya perang merebut Dewi Sinta. Setelah berhasil kok malah mau dibakar. Kata Rocky Gerung, ini benar-benar di luar akal sehat dan cenderung ke  perbuatan dungu!” protes Patih Sugriwa.

- Advertisement -