RAMA TOMBOK

96 views
- Advertisement -

“Ini hak prerogratif raja, tahu! Mau saya bakar kek, mau saya rebus kek, itu urusan saya, wong bojo-bojoku dhewe kok padha repot.” Jawab Prabu Rama asal-asalan.

Tiba di rumah pengabuan jenazah, Dewi Sinta langsung dimasukkan ke kamar oven raksasa. Tapi aneh bin ajaib, istri Prabu Rama ini tenang saja, sama sekali tidak menunjukkan kepanikan, apa lagi berontak. Dia punya keyakinan, sepanjang dirinya jujur dan tak pernah dijamah Prabu Dasamuka, niscaya Yamadipati dewa pencabut nyawa itu takkan tega padanya.

Ternyata benar, karena api yang panas menyala-nyala itu di tubuh Dewi Sinta terasa dingin saja, bagaikan di kamar hotel berbintang lima. Bedannya, di sini tak ada bedcover dan bathtub untuk berendam. Apa lagi nasi goreng-telur ceplok untuk sarapan.

“Kenapa api ini tak membakarku, pukulun Sanghyang Yamadipati.” Kata Dewi Sinta pada Sanghyang Yamadipati, saat melihat dewa pancabut nyawa itu datang tiba-tiba.

“Ada yang membisiki saya, katanya kamu masih titisan Betari Widowati, sedang dia itu idola saya sewaktu bujangan dulu. Maka saya kordinasi sama Sanghyang Agni, agar daya panas api dibikin nol drajat celsius,” jawab Sanghyang Yamadipati blak-blakan.

“Oo, begitu. Terima kasih pikulan, eh….. pukulun…!”

Begitu oven dibuka, Prabu Rama kaget tapi sekaligus juga bersyukur. Sebab Dewi Sinta tetap dalam kondisi seperti sedia kala, tak ada sama sekali kulit dan rambutnya yang kebrongos. Karena ternyata Dewi Sinta masih suci hama betul-betul, sang istri pun dipeluk dengan mesra. Keduanya bercucur air mata tanda bahagia.

“Kau memang wanita cantik luar dalam, istriku….!” puji Prabu Rama, sementara Dewi Sinta hidungnya kembang kempis, macam ikan kehabisan oksigin.

Hari itu Prabu Rama hendak memboyong istrinya ke Ayodya negeri asalnya. Tiket pesawat pun segera dipesan untuk rombongan sebanyak 100 orang. Kata pihak agen tiket Traveloka, untuk penerbangan Ngalengka-Ayodya hari Kamis perorang ongkosnya Rp 600.000,- Maka Prabu Rama segera keluarkan cek tunai Rp 60 juta. Semua diurus oleh Kapi Jaya Anggada.

- Advertisement -