RAMA TOMBOK

93 views
- Advertisement -

Tapi menjelang hari H tiba-tiba ada penjelasan dari pihak biro perjalanan bahwa harga tiket naik 100 persen karena terjadi kelangkaan pesawat. Hampir seluruh armada Blekok Airlines dicarter Indonesia untuk penerbangan haji ke Mekah. Soalnya untuk memperpendek waiting list yang sampai puluhan tahun, tahun ini sengaja Kemenag kirim sekaligus 2,3 juta jemaah, 10 kali lipat dari biasanya.

“Haduh, APBN jebol lagi nih….,” keluh Prabu Rama sambil tepuk jidat.

“Nanti transit dari Pancawati saja Sinuwun, biar bisa menghemat.” Saran Patih Sugriwa.

Benar juga saran patih Sugriwa ini. Nanti di Pancawati kan bisa jual saham atau BUMN untuk menutup biaya boyongan massal ke Ayodya. Negeri ini sudah lama ditinggalkannya. Sedangkan adiknya, Raden Barata sebagai prabu wakil, asal-asalan mengelola negara. Nyaris tak ada pembangunan, karena adik Prabu Rama ini takut terjebak korupsi dan kemudian diudak-udak KPK. Saking hati-hatinya, Waduk Pluit saja sampai dangkal, karena sampah dan lumpur tak pernah dikeruk.

Tapi ternyata, tarif tiket ke Pancawati hanya turun sedikit menjadi Rp 950.000. Patih Sugriwa lalu buka kalkulator di HP-nya. Wutttt…, dihitung-hitung masih ketemu angka Rp 95 juta, itu belum termasuk bagasinya. Apa akal? Ketimbang gagal pulang ke Ayodya, terpaksa sebagian kera disuruh naik kapal Pelni saja. Sedangkan segenap wayang yang mampu terbang sebagaimana Anoman, Gunawan Wibisono, terpaksa mengalah terbang solo, plek eplekkkkk……

“Kita prihatin dulu, Diajeng….” kata Prabu Rama.

“Nggak apa-apa Kangmas….” Jawab Dewi Sinta.

Maklum di negeri orang. Untuk bisa menambah dana pembelian tiket pesawat, Prabu Rama terpaksa tombok dengan menggadaikan dulu makutha yang biasa bertengger di kepalanya. Maka dalam penerbangan pulang ke Ayodya transit di Pancawati, Prabu Rama kali ini terpaksa hanya pakai kupluk seperti mau kenduri. (Ki Guna Watoncarita)

- Advertisement -