Nasib Pencari Suaka

195 views
Para pencari suaka yang sempat keleleran di Jl. Kebonsirih Jakarta Pusat- di belakang Balaikota DKI.
- Advertisement -

HIDUP di rantau orang, bukan di negeri sendiri lagi, tak punya bekal keuangan yang cukup, sungguh mengenaskan. Itulah nasib para pengungsi pencari suaka yang terdampar di Indonesia. Mereka korban konflik perang di kawasan Timur Tengah yang tak kunjung usai. Tapi ironisnya, di negeri ini ada sekelompok orang yang justru mendambakan Indonesia menjadi negara sebagaimana Timur Tengah, yang katanya demi mencapai Indonesia yang baldatun toyibatun warabun ghofur.

Sejak 5 tahun lalu Indonesia menjadi sasaran kaum pengungsi pencari suaka. Dulu mereka bertahan di seputar Kalideres. Tapi karena UNHCR tak bisa berbuat banyak, akhirnya kini mereka merangsek sampai ke Kebon Sirih, selangkah lagi bisa di depan Balaikota. Untung saja Pemprov DKI mengantisipasi dengan cepat, tanpa menunggu gubernurnya yang sedang jalan-jalan ke Amerika Selatan dan Serikat.

Pencari suaka adalah orang-orang yang terusir dari negaranya, akibat konflik etnis dan perang yang berkepanjangan. Mereka yang masuk Indonesia berasal dari negara Afganistan, Sudan, Somalia, dan Irak.  Mereka berharap  UNHCR (United Nation High Comission for Refugees) segera bisa segera menempatkan ke negara ketiga sebagai tujuan.  Di sanalah mereka akan membangun kehidupan baru, melupakan negeri tumpah darahnya untuk selama hayat dikandung badan.

Indonesia memang negara aman damai, penduduknya dikenal sebagai bangsa yang ramah, sehingga para pengungsi dari Timur Tengah ini ingin numpang hidup meski sementara saja di negara kedua. Di sinilah ironisnya. Sementara kawasan Timur Tengah selalu berkecamuk dilanda perang berkepanjangan, sekelompok orang Indonesia justru ingin menjadikan Indonesia seperti Timur Tengah. Kelompok ini sudah dibubarkan negara, tapi anggotanya masih gentayangan menyusup ke kelompok resmi untuk membangun kekuatan kembali.

Ratusan manusia Indonesa berduyun-duyun ke Irak untuk bergabung dengan ISIS. Padahal akhirnya, mereka hanya menuai kekecewaan dan ingin kembali ke Indonesia. Di sinilah kelucuannya, sementara orang-orang Timur Tengah pada lari meninggalkan negaranya, justru orang Indonesia melarikan diri ke negara mereka. Apakah ini bukan namanya golek mala (cari penyakit)?

- Advertisement -