BETARA TEMBURU MBALELA

110 views
Karena kepepet, Betara Narada siap berbagi kekuasaan 55-45 persen. Tapi Sanghyang Temburu menolak.
- Advertisement -

SEPERTI PNS di ngercapada, para dewa di kahyangan Jonggring Salaka juga memiliki pangkat dan golongan. Bethara Narada itu pejabat aselon I yang bergolongan IV-b, sementara Sanghyang Bethara Guru (SBG) bergolongan IV-e. Kalangan dewa yang bergolongan III-c bisa disebut misalnya: Bayu, Indra, Penyarikan, Kamajaya, Wisnu dan Brama. Betara Yamadipati meski baru golongan III-a, obyekannya banyak: tiap hari mencabut nyawa makhluk ngercapada. Pernyawa honornya Rp 500.000,- dipotong Pph 15 persen.

Dewa mentok karier dengan golongan II-d, adalah Hyang Patok dan Hyang Temburu. Mereka ini dewa yang tak begitu beken, karena pekerjaannya juga tak jelas. Justru karena bergolongan kecil, untuk menambah penghasilan harus banyak ngobyek. Habis absen  finger print di Bale Marcakunda, dia ngilang cari tambahan di ngercapada. Jadi apa saja kek, yang penting halal.

“Ke mana nih Temburu? Absennya ada tapi kok orangnya nggak ada?” tegur Bethara Indra sekali waktu.

“Biasa, mbolos. Memangnya hanya anggota DPR saja yang bisa.” Jawab Bethara Patok yang masih sibuk ngepel lantai.

Ke mana saja Hyang Temburu setiap ngilang ke ngercapada? Ternyata di sana dia punya grup musik campur sari “Lejar Manah”, yang mampu menggoyang sebuah kota manakala dia pentas. Gesekan alat musik “Mustikaning Rebab” pemberian Sanghyang Wenang dulu, suaranya demikian mendayu-dayu dan menyihir penonton. Karena Temburu juga pencipta lagu-lagu, maka lagu karyanya “Lek-lekan” sangat dikenal kawula muda. Dalam berbagai kesempatan, sedang di kamar mandi misalnya, mereka selalu mendendangkan, “Lek-lekan aja lek-lekan, nek ora ana perlune, lek-lekan entuk wae yen ana gunane…….”

Demikianlah, Hyang Temburu si Raja Campursari hari itu mendadak berada di Pasetran Gandamayit, kedaton Betari Durga. Apakah dia hendak survei lapangan sebelum manggung? Bukan. Ternyata dia punya agenda khusus, yakni minta dukungan demi kariernya di masa depan. Masak jadi dewa dari jaman baheula, golongannya II-d melulu. Lainya pada dapat remunerasi, dia hanya dengar doang.

- Advertisement -