MBANGUN PLASA JENAR

116 views
Patih Sengkuni dipanggil Pendita Durna untuk klarifikasi beredarnya isyu miring.
- Advertisement -

PATIH Sengkuni kaget betul, pagi-pagi kedatangan anak muda mengenakan ransel, pakai celana pendek, bersepatu Bata, dan di dada ditempel poster bertuliskan: JALAN KAKI YOGYAKARTA-JAKARTA GANTIKAN NADZAR AMIEN RAIS. Membaca tulisan tahulah sudah Patih Ngastina tersebut akan maksud tulisan itu. Paling-paling minta sumbangan, sebagai uang partisipasi terhadap generasi muda.

Maka Patih Sengkuni segera mengeluarkan uang ratusan merah, diangsurkan pada anak muda, yang dipastikan namanya Lilik Yuliiantoro, asal Blora (Jateng). Sebagai patih negeri yang disorot dunia, Sengkuni memang selalu mengikuti perkembangan dunia lewat situs-situs internet, termasuk juga medsos. Dia juga masuk grup WA Negeri Ngastina. Maka ke mana saja HP androidnya tak pernah lepas dari tangan. Bahkan saat rapat atau salat Jumat.

“Bagus, anak muda harus bersemangat baja. Ini Oom bantu Rp 100.000,- ya…” kata Patih Sengkuni, nampaknya dia tergesa-gesa dibatasi oleh waktu.

“Bukan itu tujuan saya ke sini, Oom. Saya hanya mohon ijin dipinjami, atau sukur-sukur diberi, wayang kulit tokoh Oom sendiri. Yang dari kulit boleh, dari karton juga tak masalah.” Kata Lilik Yuliantoro sambil membetulkan posisi ransel di punggungnya.

Patih Sengkuni kaget, sampai mata terbelak. Ini anak muda kok macam-macam. Namanya patih, pastilah foto besarnya menghiasi setiap perkantoran di Ngastina, bersama raja Prabu Duryudana. Tapi dibentuk dalam wayang, setahunya belum pernah ada dan belum juga pernah melihatnya. Apa maunya anak muda ini. Wayang Sengkuni mau dibuat apa, apa untuk nakut-nakuti tikus? Itu pembunuhan karakter namanya.

Karenanya permintaan Lilik Yuliantoro ditolak mentah-mentah, sambil menggumam: macam-macam saja kamu! Habis itu Patih Sengkuni segera kabur bersama mobil dinasnya Toyota Camry seri terakhir yang pada plat polisinya tertulis: N-2, maksudnya Ngastina 2, atau Patih Ngastina.

- Advertisement -