DURNA TUMBAL

158 views
Prabu Jokopit sebetulnya ingin menyampaikan rencana dewa di kahyangan, tapi Begawan Durna sudah kabur ke Ngatasangin duluan.
- Advertisement -

SEBETULNYA hak atas negeri Ngastina ada pada keluarga Pendawa Lima, tapi karena Gendari istri Destarata juga berambisi salah satu putranya jadi penerus dinasti Ngastina, maka diciptakan isyu bahwa yang berhak jadi raja itu harus sudah akil balik dan pernah mimpi basah. Awalnya rakyat Ngastina tak percaya “dalil” itu, tapi begitu dihembuskan lewat “ulama” Begawan Durna, semua jadi percaya.

Maklum, Begawan Durna ini memang tokoh terpandang di Ngastina. Aslinya dia bukan WNA (Warga Negara Astina), karena asalnya dari negeri Ngatasangin. Yang merekrut dulu Prabu Pandu, setelah Begawan Durna bikin perguruan Sokalima Beragama. Maka bila Indonesia baru akan impor rektor-dosen tahun 2020, negeri Ngastina sudah sejak kapan-kapan impor begawan.

“Kenapa Dewi Gendari sampai sebegitunya ingin menguasai negeri Ngastina ya?” begitu pertanyaan masyarakar akar rumput.

“Sebab punya anak sampai 100, itu merupakan bonus demografi yang harus diantisipasi dengan cepat. Jangan sampai anak-anak Kurawa 100 itu jadi pengangguran.” Kata wayang akar rumput yang lain, rupanya suka nguping pendapat pengamat politik di TV swasta.

Demikianlah, dengan merujuk pendapat Begawan Durna, akhirnya putra pertama Kurawa, yakni Jaka Pitono, dijadikan raja Astina. Ada juga LSM yang menolaknya, tapi setelah diberi amplop segepok, lumer dah dia sehingga mendukung Jokopit –begitu dia sering dipanggil– jadi penerus dinasti Astina.

Tapi ternyata Jokopit ini hanya berbadan besar, tapi otak kecil. Dia jadi raja Astina nyaris tak berbuat apa-apa, semua hanya meneruskan program Prabu Pandu, ditambah kata plus, agar keren dan membumi. Misalnya bantuan sembako untuk manula, ditambah kata plus, karena isinya bukan saja beras, minyak goreng, telor dst, tapi ada juga voucher kuota Rp 50.000,-

- Advertisement -