Hong Kong Kian Mencekam

42 views
Gelombang aksi demo yang semula untuk menentang UU Ekstradisi sejak dua bulan lalu, berubah menjadi teriakan revolusi.
- Advertisement -

HONG KONG yang sebelumnya merupakan kota tujuan wisata teramai dunia sedang beranjak ke arah situasi paling rawan akibat eskalasi aksi-aksi unjukrasa yang bisa menciptakan “bola liar”, menjadi lepas kendali.

Aksi massa berlangsung tak putus-putusnya sejak dua bulan lalu untuk memprotes rencana pengesahan amendemen UU Ekstradisi usulan Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam, berubah menjadi aksi kekerasan diwarnai bentrok antara petugas dan pendemo yang mulai meneriakkan kara-kata “revolusi”.

Lam sendiri yang dituding sebagai anasir pro-rezim Beijing menyatakan tekadnya untuk tidak akan menyerah pada tuntutan massa.

“Mereka sesungguhnya merusak hukum dan ketertiban Hong Kong, kota tercinta yang dibangun oleh banyak orang ke ambang situasi yang amat berbahaya, “ ujarnya.

Lam menyebutkan narasi revolusi yang diteriakkan pendemo sebagai tantangan pada bentuk “satu negara dua sistem” yang diberlakukan sejak Hong Kong diserahkan Inggeris kepada China pada 1997.

Hong Kong yang menjadi wilayah koloni Inggeris pasca Perang Candu (1839 – 1842) menjadi wilayah administrasi khusus pertama di bawah China sejak diserahkan oleh Inggeris pada 1997.

Dengan luas 1.104 Km2 atau kurang dari dua kali luas wilayah Jakarta (665 Km2) dan jumlah penduduk sekitar tujuh juta lebih, 95 persen berasal dari wilayah China Selatan, Hong Kong merupakan kota tujuan wisata nomor 1 dunia.

Bayangkan, 30 juta turis dari manca negara datang ke Hong Kong pada 2018 menghasilkan devisa sebesar 42 milyar dolar AS (sekitar Rp588 triliun). Bandingkan dengan target Indonesia mendatangkan 20 juta turis asing, dengan sasaran perolehan devisa 17,6 juta dolar AS (sekitar 250 triliun).

Melangkah Terlalu Jauh
Lam yang dipilih sebagai penguasa Hong Kong oleh sekitar 800 anggota Komite Pemilihan yang komposisinya konon “tokoh-tokoh loyalis China daratan” menilai, aksi-aksi demo sudah “melangkah terlalu jauh” dari awal tuntutan mereka.

- Advertisement -