SENGON DEWANDARU

94 views
Setelah dikencingi Semar, dari pohon Sengon Dewandaru muncul Betara Brama. Dia diomeli habis-habisan oleh Lurah Semar.
- Advertisement -

KAHYANGAN Jonggring Salaka Minggu siang itu mestinya menyelenggarakan sidang selapanan terbatas untuk membahas persiapan Idul Adha 1440 H. Sanghyang Betara Guru (SBG) hendak mengetahui sampai di mana persiapan Bethara Narada selaku ketua panitia. Ada sapi berapa ekor, kambing berapa ekor, kemasan daging kurban seperti apa. Semua itu hendak ditanyakan secara detil oleh SBG selaku penguasa kahyangan. SBG tak mau ketanggor (kena batunya) dua kali. Tahun lalu pembagian daging kurban semrawut. Ada yang tak kebagian, ada yang dapat dobel-dobel. Bahkan kepala sapi digelapkan diam-diam.

Semua dewa elit hadir. Ada Sanghyang Bayu, Sanghyang Kamajaya, Sanghyang Sambu, Sanghyang Surya, tentu saja Sanghyang Betara Narada dan SBG. Bertindak sebagai MC Sanghyang Penyarikan, yang selama ini dikenal sebagai Sekretaris Kahyangan. Masih banyak dewa yang lain. Untuk rapat-rapat beginian pasti lengkap, sebab setiap peserta dapat uang transpor Rp 500.000,- Bagi kalangan dewa jujur tak pernah dapat sabetan, jumlah itu sangat berarti.

“Dari sekian dewa di kahyangan, kami laporkan bahwa Sanghyang Betara  Brama tidak hadir, ramanda SBG.” Kata Betara Penyarikan melaporkan.

“Sudah dikontak belum, ke mana dia?” Betara Narada bertanya.

“Lho, seminggu lalu saya lihat di Pasar Tanah sedang nawar kambing dia…” potong Betara Tremboko.

Tiba-tiba pettt…….listrik mati dan gedung Bale Marcakunda gelap gulita, ruangan menjadi panas, karena AC tak berfungsi. Para dewa pun langsung ingat Sanghyang Betara Brama, karena memang dia yang bertanggung jawab atas perlistrikan di kahyangan Jonggring Salaka. SBG juga mencoba kontak dianya, tapi gagal karena HP-nya juga ikut-ikutan lumpuh. Otomatis sidang bahas persiapan kurban jadi gagal.

Ketika listrik mati, semua ingat Betara Brama. Tapi apakah para dewa juga ingat, seperti apa penderitaan dia sebagai Dirut-nya PLN di kahyangan Jonggring Salaka? Seperti kata Sanghyang Brama kepada pers, tetapi dinyatakan off the record, sejak PLN dijadikan BUMN Penugasan, keuangan perusahaan jadi berdarah-darah. Soalnya PLN diminta menggratiskan semua kebutuhan listrik dewa-dewa di kahyangan. Padahal SBG sendiri tak  pernah segera menutup anggaran PLN lewat APBK (Anggaran Pendapatan dan Belanja Kahyangan).

- Advertisement -