Ayo, Ikuti Napak Tilas Sejarah Multikulturisme di Depok

32 views
NAPAK TILAS - Komunitas Masyarakat Sipil Depok, ajak masyarakat napak tilas sejarah multikulturisme di Depok, Sabtu (24/8/2019). Foto: Ist
- Advertisement -

DEPOK – Komunitas Sipil Masyarakat Kota Depok Jawa Barat menggelar acara Jalan-Jalan Sejarah Keberagaman Depok Tempo Doeloe. Acara terbuka untuk umum.

“Para peserta diajak menelusuri situs-situs bersejarah di Kota Depok, mulai dari Rumah Pondok Cina, Gedung Gemeente Bestuur (Kotapraja) Depok, Paal Gedachtenis Aan Chastelein atau yang lebih dikenal dengan Tugu Chastelin, Rumah Presiden Depok, Depoksch Europesche School, Depoksch Kerk, hingga Stichting Cornelis Chastelein,” ungkap Koordinator #DepokBeragam, Nor Hiqmah di Depok, Kamis, (15/8/2019)

Dikatakan Nor Hiqmah, diadakannya jalan-jalan ini agar anak muda memahami sejarah Depok yang multikultural dan keberagaman.

“Keberagaman dan toleransi merupakan kekayaan Kota Depok yang patut kita rayakan,” imbuh Nor Hiqmah.

Tentunya, kegiatan ini diadakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 dan akan digelar Sabtu, 24 Agustus 2019. “Siapapun boleh ikut, hanya dengan berkontribusi Rp150.000,” terang Hiqmah.

Dijelaskan Hiqmah, sejarah awal Depok terkait dengan perdagangan Kerajaan Sunda di pedalaman Jawa bagian barat dengan kota bandarnya, Sunda Kelapa. Perdagangan ini memanfaatkan jalur sungai, yaitu Ciliwung.

“Depok sendiri berada di bagian tengah Ciliwung dan menjadi tempat transit para pedagang Cina. Sebab itu ketika pejabat VOC Cornelis Chastelein membeli tanah di Depok secara bertahap pada tahun 1696, ia telah menemukan kehidupan masyarakat lokal dengan orang-orang Cina,” urainya.

Kehidupan ini bertambah beragam karena Chastelein membawa sekitar 150 pekerjanya yang mayoritas dari Makassar dan Bali untuk memulai idenya membangun komunitas pribumi yang religius dan cerdas dalam mengelola kekayaan alam secara mandiri.

“Dari sinilah interaksi sosial dan budaya antarkelompok yang berbeda suku, bangsa, dan agama menguat serta menjadikan Depok sebagai kota yang multikultural. Identitas Depok yang multikultural inilah yang sebaiknya terus diingat dan dirawat oleh generasi muda,” ujarnya.

“Jalan-jalan sejarah Keberagaman Depok Tempo Doeloe ini dibuat untuk sama-sama pulang ke rumah sejarah, sehingga kita insyaf tentang Depok yang beragam sejak zaman baheula,” ujar Sejarahwan JJ Rizal di Depok, Rabu, 14 Agustus 2019.

Menurut Rizal, sejarah menunjukkan bahwa keberagaman Kota Depok bukan sekadar ditunjukkan dengan kehadiran orang atau kelompok dari berbagai latar belakang etnis dan agama, tapi juga dari upaya kelompok-kelompok yang berbeda tersebut untuk berbagi nilai terbaik mereka guna membentuk kebudayaan bersama.

Kampanye keberagaman Kota Depok ini melibatkan sejumlah organisasi masyarakat sipil di Depok, diantaranya Public Research & Advocacy Center (Pirac), Jaringan Gusdurian Depok, Komunitas Sejarah Depok (KSD), Komunitas Tanah Baru, Komunitas Bambu, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, INklusif, Gerakan Indonesia Kita (Gita), Search for Common Ground (SFCG), dan lain-lain.

Yang berminat bisa mengontak panitia acara di nomor 081291651819 / 085694771533 / 0818809768.

- Advertisement -