Kurban Atau Akikah?

68 views
- Advertisement -

Ini kejutan luar biasa dari Gubernur Anies. Gubernur-gubernur sebelumnya tak pernah kepikiran sampai sebegitunya. Hanya pengganti Ahok inilah yang sangat visioner, demi memudahkan warga kota menikmati daging kurban. Kata Gubernur, ini juga bisa meningkatkan martabat para mustahik, karena bisa menikmati daging kurban rasa hotel  berbintang.

Untuk memanjakan para mustahik daging kurban, lewat program “Dapur Kurban”. Gubernur Anies bekerjasama dengan Hotel Borobudur. Selama Idul Adha termasuk di hari tasyrik, setiap pagi Pemprov DKI mengirim 320 Kg daging sapi ke hotel itu. Beberapa jam kemudian sudah menjadi menu siap saji sebanyak 800 porsi, yang siap dibagikan pada para mustahik di Kampung Melayu, Kebon Sirih dan Tanah Tinggi.

Cara-cara Gubernur Anies memang tak melanggar syariah, cuma jadi ribet saja. MUI tak mempermasalahkan gebrakan Gubernur. Sebab berdasarkan kajian Fikih, hukum daging kurban bentuk olahan adalah: mubah (boleh). Dalam kondisi tertentu, maksudnya tidak umum, dipersilakan saja. Karena itu nantinya bisa saja mustahik menerima daging kurban dalam bentuk abon, tongseng-gule, bahkan gaya thengkleng Solo.

Para mustahik di hari pertama menerima 800 porsi daging kurban itu. Tapi karena selera setiap lidah tidak sama, ada yang mengomentari terlalu asin. Ada juga yang berpendapat gebrakan Gubernur Anies ini seperti orang kikahan kolosal atau partai besar.

Namanya juga diberi, tak etislah kalau protes. Hanya modal cangkem (mulut), kok mengritik macem-macem. Tapi serius, kalau bisa usul  mending dibagikan dalam bentuk seperti biasanya saja. Soalnya jika sudah menjadi proyek, dikhawatirkan ada juga oknum-oknum yang bermain. Mencari untung di sela-sela kurban. Mustahik lebih memilih dalam kondisi daging mentah, terserah oleh mustahik mau dibikin apa. Mau dibukin rendang, gule, atau sate dan tongseng, terserah merekalah. (Cantrik Metaram)

- Advertisement -