Filantropi Indonesia Kunjungi China untuk Perkuat Database dan Transparansi

22 views
- Advertisement -

CHINA – Filantropi Indonesia bersama dengan BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) dengan dukungan dari Ford Foundation melakukan kunjungan ke China pada 13 – 16 Agustus 2019.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melakukan pengembangan real time database dan indeks transparansi lembaga filantropi, sebagai perangkat modern dalam memperkuat transparansi dan akuntabilitas filantropi di berbagai negara, termasuk di Cina.

Sementara itu pengembangan real time data base dan Foundation Transparancy Index (FTI) di China Foundation Center (CFC)  sudah diakui dan menjadi rujukan bagi lembaga-lembaga filantropi Cina dan filantropi global sebagai salah satu solusi inovatif
dan standar baru dalam mendorong dan meningkatkan transparansi lembaga-lembaga
filantropi.

Hamid Abidin, Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia, menjelaskan bahwa FTI merupakan
sistem data base lembaga filantropi yang dibangun untuk memberikan layanan informasi
berbasis online secara realtime kepada publik mengenai lembaga filantropi di Cina berikut
program dan laporan keuangannya.

CFC sebagai pengelola FTI mengumpulkan informasi tersebut dari laporan yayasan yang disampaikan di situs organisasinya dan laporan yang disampaikan kepada pemerintah. Dari informasi-informasi inilah, FTI kemudian melakukan pemeringkatan berdasarkan indikator yang sudah ditetapkan untuk menentukan posisi dan peringkat yayasan tersebut.

Selain belajar tentang pengembangan data base dan FTI di CFC, Filantropi Indonesia juga
berkunjung ke beberapa asosiasi dan lembaga filantropi di Cina untuk berbagi informasi dan menjalin kemitraan.

“Indonesia dan Cina memiliki banyak kesamaan dalam hal kebijakan dan kultur filantropi sehingga ada banyak gagasan dan inisiatif yang bisa diadaptasi, tentu melalui penyesuaian dengan kultur dan konteks filantropi Indonesia,” kata Hamid, dalam siaran pers yang diterima KBK, Jumat (16/8/2019).

Cina dikenal sebagai salah satu negara yang kegiatan filantropinya berkembang sangat pesat dalam sepuluh tahun terakhir. Di negara tirai bambu yang dikenal sangat tertutup ini, sektor filantropi baru tumbuh pada tahun 2008 yang dipicu oleh terjadinya gempa bumi dahsyat di wilayah Wenchuan. Bencana nasional itu dinilai sebagai momentum kebangkitan filantropi Cina yang menggerakkan ribuan inisiatif penggalangan dan penyaluran sumbangan oleh berbagai yayasan, sebuah fenomena yang belum ada sebelumnya.

- Advertisement -