Berani kah China Serbu Hong Kong?

595 views
Dunia dan rakyat Hong Kong cemas atas kemungkinan campur tangan militer China mengatasi gejolak yang terjadi di wilayah administrasi China ini. Dikabarkan satua paramiliter China sudah disiapkan di provinsi tetangga Hong Kong, Shenzen.
- Advertisement -

PASUKAN para militer China dilaporkan sedang menggelar latihan besar-besaran di provinsi Shenzen, tetanggga wilayah administrasi Hong Kong yang sedang bergolak seja 2,5 bulan terakhir ini.

AFP dan Reuters melaporkan, ratusan anggota satuan militer, mirip pasukan Anti Huru-hara (PHH) TNI yang di-BKO-kan menangani tugas-tugas kepolisian, berlatih menghadapi aksi massa di salah satu stadion di Shenzen, Kamis (15/8).

Saat mereka berlatih simulasi mengatasi aksi unjukrasa, di luar stadion tampak berjejer ratusan kendaraan taktis pengangkut personil, mobil meriam air dan pengangkut amunisi.

Media pemerintah Global Times juga menyiarkan latihan pengendalian huru-hara dalam skala besar oleh militer China di kota Shenzen yang disebut sebagai “pesan yang jelas” terhadap para perusuh.

Bahkan Editor Global Times HU Xijin di akun medsos mengingatkan, latihan yang digelar satuan PAP di Shenzen merupakan signal bahwa Beijing siap menyerbu Hong Kong kapan saja jika menilai, pendemo tidak mau mundur dan mendorong situasi ke “tubir jurang” krisis.

Eskalasi aksi unjukrasa terus meluas, bahkan selama dua hari, Senin dan Selasa lalu (12 dan 13 Agustus) massa sempat menduduki ruang kedatangan Bandara Hong Kong sehingga melumpuhkan ratusan penerbangan di bandara paling sibuk di dunia itu.

Aksi massa yang semula menyasar tuntutan pembatalan pengajuan RUU Ekstradisi yang memungkinkan pelakunya diadili di daratan China kemudian beralih pada upaya untuk melengserkan penguasa Hong Kong pro-China, Carrie Lam.

Dilematis
Bagi penguasa China daratan, pilihan langkah yang dipilih untuk mengatasi gejolak di Hong Kong sangat dilematis, bagai menghadapi buah “si malakama”.

Mengabulkan tuntutan massa, berarti tamparan atau kekalahan, sedangkan menggunakan kekuatan militer berarti menentang slogan “Satu Negara Dua Sistem” yang didengang-dengungkan mereka sendiri.

- Advertisement -